h1

GUNUNG RAUNG

November 30, 2010

Pendakian Raung 2010

Jalur Pendakian Utara (Desa Sumber Wringin, Kab. Bondowoso)
25 – 27 Februari 2010

Tim Ekspedisi : Saya, Andy, Ndox dan Faliz

Pendakian ke Gunung Raung sebenarnya sudah sempat kami rencanakan di penghujung Desember 2009 lalu, pada saat liburan Natal. Namun karena ada suatu halangan, serta cuaca yang sangat riskan pada saat itu, maka pendakian di delay untuk waktu yang belum dipastikan (kami semua baru pertama kali kesini).

Kami berangkat Rabu, 24 Februari malam dari Terminal Surabaya, kami berkumpul dirumah saya. Lalu belanja logistic di alfamart terdekat, packing dan berangkat ke Terminal Bungurasih. Waktu menunjukkan pukul 22.39 saat kami tiba didepan Terminal. Melihat kami yang membawa Carrier besar, langsung ada Calo yang menawarkan bus pada kami. Kamipun naik bus malam ekonomi jurusan Tawangalun, Jember.Pukul 02.30 dini hari kami sampai di Terminal Tawangalun, Jember. Banyak  jasa ojek langsung menawarkan diri, tapi kami memilih melanjutkan perjalanan dengan Angkutan kota Warna Kuning ke Terminal Arjasa, Jember. Karena trayek dinihari. Sang Sopir dengan seenaknya menaikkan harga. Tarif yang seharusnya  4000 rupiah digenjot hingga 10.000 rupiah per orangnya. Perjalanan 30 menit, kami sampai di sebuah terminal kecil di sudut kota Jember, tampak dua buah bus, beberapa angkot dan dua kol saja yang sedang beroperasi saat itu, kami mencari Bus Jurusan Bondowoso. Bus sudah siap berangkat, kami pun langsung menggotong carrier masuk ke dalam bus dan berjubel bersama para pedagang pasar yang akan berangkat.  Minibus yang kami tumpangi melaju lengang tanpa saingan di sepinya kota Bondowoso, banyak penumpang dengan  beragam barang cargonya silih berganti turun di sepanjang perjalanan. Pukul 05.20 kami Tiba di tujuan, Pertigaan Gardu Atak. Kami menyebrang jalan dan menuju ke angkot biru yang trayeknya ke Desa Sumber Wringin. Karena baru kami saja Penumpangnya, maka kami harus menunggu sampai setidaknya angkot penuh, pukul 07.00 angkot-pun jalan. Perjalanan melalui jalan-jalan desa Sukosari yang sempit membelah persawahan yang hijau, Jarak ke Sumber Wringin lumayan jauh, untung angkotnya penuh jadi jalannya agak cepat. Kurang lebih 30 menit kami sampai di Sumber Wringin, dan kami sangat berterima kasih karena diturunkan tepat di area Pesangrahan “Basecamp Pendakian Gunung Raung”.
Tiba di Pesanggrahan Gunung Raung. Didepan kami adalah sebuah bangunan Belanda dengan  arsitektur  kuno gaya kolonial. Umur bangunan ini saya rasa cukup tua, namun sangat terawat dalam balutan cat tembok warna putih dan Susana yang begitu asri dengan kebun bunga di pekarangan. Bu Endang sang Pengurus Pesanggrahan langsung menyambut kami dengan hangat, mempersilahkan kami istirahat sejenak, dan tahu kalau kita datang dengan muka-muka kelaparan, beliau-pun memasakkan sarapan pagi untuk kami. Sungguh suasana pesanggrahan yang hangat dan jarang sekali kami temui di Gunung-gunung lainnya Cuma ada di Gunung Raung.

Kami diajak berkeliling menyusuri ruang-ruang bangunan pesanggrahan , menilik kamar-kamar berfasilitas lengkap yang bisa disewa dan, diceritai ini-itu. Bu Endang, juga menyarankankan kami akan logistic dan stock air yang idealnya kami bawa. Untuk memperingan beban, barang-barang serta pakaian yang tidak perlu, kami tinggal di Pesanggrahan. Lauk pauknya sudah matang, plus sambalnya. kami-pun menyantap masakan Bu Endang dengan lahap. Meskipun menunya sederhana, tapi saat itu terasa sangat nikmat sekali.
Setelah makan, kami pun bersiap-siap, Bu Endang mengusulkan kami untuk mengojek saja ke Pondok Motor untuk mengirit energy dan air, sebab di Gunung Raung sama sekali tak ada sumbar mata air nantinya. Ok, kami setuju. Dia-pun menelponkan tukang ojeknya pula. Wah, sungguh baik hati sekali Bu Endang. Sebelum berangkat kami-pun mengisi kas Pesanggrahan sebagai retribusi plus bea menu sarapan paginya dengan nilai yang tidak dipatok, terserah menurut Bu Endang….. “sesuai  keikhlasan kalian saja”, katanya.
Empat Orang sopir Ojek sudah siap mengantar kami, Pukul 09.00 kami berpamitan pada Bu Endang, dan melesat kencang diatas motor menyusuri jalan aspal Sumber Wringin yang berlubang menuju Ke Pondok Motor.

PONDOK MOTOR

Jalanan aspal pun berujung pada hutan pinus, berganti dengan jalanan makkadam dan medan makin berat, akhirnya kami berhenti pada sebuah titik pemberhentian yang sepertinya menjadi tempat pemberhentian dan bongkar muat barang-barang perkebunan. Inilah Pondok Motor, kami telah tiba. Ternyata , sekitar satu jam perjalanan dengan menggunakan ojek. Pondok motor berada di daerah perkebunan, dengan view hutan pinus yang mengelilingi pandangan mata. Setelah bercanda dan mengabiskan rorkok satu batang, dan berfoto bersama, kami-pun melepas perjalanan ke selatan, para tukang ojek pun balik sambil melambaikantangan mengiringi perjalanan kami. Saat itu pukul 10.00, kami susuri jalanan pematang perkebunan dan hutan pinus, jalanan berkelok-kelok, naik-turun dan berlumpur.

*Sempat Tersesat

Hati hati, Banyak sekali percabangan di sepanjang trek perkebunan, sedikit membingungkan kami yang sebelumnya tak ada yang pernah kesini. Tapi, kami ikuti saja jalanan trek paling besar yang menuju ke arah selatan-barat daya. Itu adalah trek pendakiannya. Tak ada petani atau orang yang lewat sepanjang jalan yang bisa kami tanyai. Kami berjalan terus hingga tiba di sebuah percabangan, kami ingat kata salah seorang sopir ojek kami tadi, “ambil trek ke barat daya daya mas….sampai masuk hutan nanti”. Berarti kami harus ambil kiri, sebelumnya kami sempat sangsi, sebab trek percabangan sama jelasnya. Dan dari orientasi medan yang kami lakukan, di trek kiri ini juga ada bekas-bekas pernah dilewati para pendaki, juga bekas-bekas sampah snacknya. Kami ambilah jalan kiri, melewati jalanan naik-turun menyusuri sisi tebing dengan jurang  pendek dan sungai kecil berair keruh didasarnya. Dan sampailah kami pada sebuah pondok di Ujung bukit, kami sadar, firasat jadi tak enak. Kelihatannya kami tersesat, salah arah. Kebetulan, kami lihat ada orang yang sedang bakar-bakar diatas, kami segera hampiri untuk bertanya, ternyata narasumber yang kami tanyai ini tak bisa bebahasa Jawa, begitu juga Bahasa Indonesia. Dia hanya bisa berbicara Madura. Wah, kami jadi bingung, diantara kami tak juga tak ada yang bisa bahasa Madura. Tanpa banyak omong, pria patuh baya itu mengantar  kami balik menyusuri jalanan tadi hingga sampai di persimpangan. Dia menjelaskan dengan menggunakan ranting pohon mana arah treknya. Terima kasih banyak bapak….. kami jadi tertolong.

Kami lanjutkan perjalanan kembali, ternyata yang  kami lewati tadi adalah percabangan kea arah Gunung Suket (2900 m dpl), hampir saja akami tersesat kalau saja tak ada Bapak Petani itu. Karena lelah kami istirahat, Lalu kami berjalan kembali menembus padang alang-alang dan memasuki batas hutan hujan tropis yang lebat. Itu tandanya kami telah menapaki kaki gunung Raung untuk menuju ke Pos berikutnya, Pondok Sumur. Di peta tertulis, estimasi waktunya kurang lebih 3 jam  untuk ke Pondok Sumur, Tapi, lewat 3 jam, kami tak sampai juga ke Pos itu. Kelelahan membuat kami sering beristirahat dan sempat tertidur disalah satu tempat yang kami rasa nyaman di siang harinya. Makin masuk hutan trek makin sempit, terlihat banyak remah-remah kulit kayu bekas aksi  Illegal loging. Hutan di kaki gunung raung masih sangat lebat, alami dan berlumut.

Suasana-pun sangat lembab disini. Cahaya matahari hanya samar-samar yang menembus sampai kebawah. Membuat sepanjang trek menjadi sangat teduh, makin kedalam hutan, trek makin sempit, tapi untung tak banyak percabangan lagi. Sekilas, kondisi hutannya mirip dengan hutan lumut yang ada di sekitaran Danau Taman Hidup, saat kami bertandang ke Gunung Argopuro November lalu.Kami kelelahan, pukul 14.30, kami tiba di sebuah tanah lapang kecil yang ada bekas biffaknya, beberapa bungkus mie instant dan botol air minum
tampak berserakan di, kelihatannya tempat ini bekas dipakai camp. Pondok Sumur tak kunjung sampai, kami memilih bermalam disini saja, mengistirahatkan tubuh. Sebab, kami tak tahu, masih berapa lama lagi bakalan sampai kesana. Selain itu, hujan sudah mulai turun.Saat kami memasak menu makan siang, terdengar suara gerombolan turun dari atas, ternyata mereka adalah rombongan Pecinta Alam dari IKIP jember, total ada 27 orang. Mereka sedang mengadakan Acara Diklat Lanjutan untuk para juniornya. Kami sedkit terhibur dengan kehadiran mereka, dan kami-pun sempatkan bertanya tentang kondisi trek diatas. Mereka pun menyarankan kami untuk bermalam disini saja kalau memang lelah, karena ke Pondok Sumur masih sekitar 2 jam lagi katanya, terus mereka menyarankan, untuk esok harinya nge-camp saja di Pondok Tonyok, tempatnya tertutup, jadi tak seberapa
dingin. Mereka juga meninggalkan persedian air untuk kami disana. Dari Pondok Tonyok ke Puncak, butuh waktu sekitar 4 jam. Ok lah, kami ikuti saran mereka, mereka lalu bergegas turun lagi setelah ngopi-ngopi bareng kami. Dan kami segera masuk tenda, dan beristirahat, terdengar hutan makin bergemelitik lebat diluar.

PONDOK SUMUR(1800 m dpl)

Pukul  07.30, setelah sarapan dan packing. Kami lanjutkan perjalanan Ke Pondok Sumur, trek yang kami lalui mirip seperti terowongan yang terbentuk dari tanaman-tanaman liar yang tumbuh menyilang diatas kepala. Trek awal lumayan datar dan berkelok, ada juga pohon besar tumbang yang harus kami titih diatasnya karena menutupi trek. Beberapa harus kami lompati dan merangkak dibawahnya. Tanjakan makin terjal sudutnya, dengan sisi kirinya berupa Jurang dalam, sampailah kami di Pndok Sumur. Waktu menunjukkan pukul
08.30, Cuma satu jam perjalanan ternyata. Pondok sumur berupa camp-ground dengan jurang dalam disinya, Lokasinya lumayan terbuka dan datar, cukup untuk 4-5 tenda saja, Ada Pal beton ditanah setinggi 30 cm, juga Plang dari Plat bertuliskan nama Pos ini ditancapkan di salah satu pohon tinggi.  Jangan berharap ada sumur atau sumber air disini. Kalau menurut cerita Bu Endang, memang sejatinya ada sumur disini dengan air yang sangat jernih, namun itu semua tak kasat mata. Hanya orang-orang tertentu saja dengan kemampuan yang waskita saja yang bisa melihatnya. Ternyata teman-teman dari IKIP Jember kemarin juga meninggalkan air disini untuk kami, lumayan meskipun tak banyak. Kami istirahat sebentar lalu lanjut.
PONDOK TONYOK(2210 m dpl)

Setelah beristirahat sejenak, kami lanjutkan langkah kami. Tujuan selanjutnya adalah Pondok Tonyok. Kalau menurut peta, jarak dari Pondok sumur dan Pondok Tonyok kurang lebih sekitar 2 jam. Jalanan setapak makin sempit dan sudut elevasi pendakian makin terjal, ditambah lagi dengan adanya beberapa pohon tumbang dan semak belukar yang tumbuh menghalangi trek. Jalan berkelok-kelok dan terus naik. jalanan setapak makin sempit oleh ilalang yang tumbuh subur di musim hujan. Untungnya, sulur-sulur belukar kadang salaing merajut suasana, menghadirkan sebuah terowongan yang teduh bagi kemai yang melangkah. Suasana jadi tidak panas. 2,5 jam harus kami tempuh untuk bisa sampai ke Pondok Tonyok. Pukul 11.30 kami sampai dan beristirahat sejenak. Ternyata, teman-teman dari Mapala IKIP Jember juga meninggalkan air disini,hehehe…Terima Kasih. Sempat ada wacana untuk buka tenda disini saja, lalu nanti tengah malam dilanjut ke Puncak. Tetapi, karena jarak antara Pondok Tonyok dan Pondok Sumur tidak terlalu jauh, hanya setengah jam saja, maka saya dan Andy trekking dulu untuk survey lokasi Pondok Demit, apakah nyaman dan tidak terlalu dingin untuk bermalam, sementara Faliz dan Ndox memasak makan siangnya, Tanpa Carrier, kurang dari 10 menit, kami sampai di Pondok Demit. Setelah orientasi pada medan, ernyata Posisinya lumayan-lah kalau dipakai bermalam. Atas pertimbangan daripada besok kejauhan ke Puncaknya, kami putuskan bermalam di Pondok Demit saja.

Pondok Demit(2367 m dpl)

Lokasinya cukup teduh, tidak luas. Sebuah tanah datar yang mungkin cukup untuk 3-4 tenda saja. Banyak Pohon-pohon besar mengelilingi. Disisi Barat pemandangannya terbuka ke arah jurang dan hutan lebat Raung. Kami bermalam disini saja. Sempat ingin melanjutkan perjalanan, karena mengingat hari yang menunjukkan masih pukul 13.30. Tapi, karena kabut dan gerimis mulai turun. Wah…..urunglah niatan itu. Konon, diberi nama Pondok Demit, sebab  disini ada Pasar Setannya. Waktu yang luang kami habiskan dengan bersenda
gurau, dan saling bercerita tentang ini itu. Akhirnya ngantuk dan tertidur, Saat hari menjelang senja, Ndox yang masih berda diluar tenda membangunkanku. Sunsetnya begitu indah sore itu. Perpaduan antara jingga dan merah saling bergelayut merajut senja di ufuk barat. Membuat suasana begitu temaram dalam lembayung yang remang-remang. Kami semua terdiam, hanya bisa tertegun menelan ludah, tanpa berkata sepatah katapun. Sungguh indah nian saat itu, Terma Kasih Tuhan, Terima Kasih alam. Kami bersimpuh, sambil menghisap batangan rokok kretek, sambil menyaksikan diaroma yang beberapa menit saja ini, lalu tak lupa mengabadikan mommentnya. Ada yang aneh disini, sayup-sayup kami mendengar suara alunan yang mirip suara gamelan. Samar namun masih dapat kami dengar. Suara gamelan-pun diiringi suara orang nembang. Mirip seperti tembang jawa denan nuansa sedikit dangdut. Kadang sumber bunyi berasal dari arah depan, berpindah dari arah samping, dan berpindah dari belakang. Mirip speaker surround. Kami sempat bertanya Tanya, darimana asalnya. Namun setelah sadar, o..oh, kamipun langsung memilih masuk tenda saja dan beristirahat.

Pukul 02.00 Saya membangunkan rekan-rekan, Persiapan untuk ke Puncak. Kami packing ulang barang-barang, dan kami tinggalkan carrier kami di salah satu sudut yang tertutup semak di Pondok Demit. Kami ke puncak dengan satu carrier kecil saja, yaitu carrier Ndox. Pukul 02.30 setelah berdoa, kami trekking ke Puncak, untuk kesana kami harus melalui Pondok Mayit dan Pondok Angin. Jalan memang makin menanjak terjal, banyak pohon-pohon besar tumbang yang kadang mengharuskan kami untuk menitih diatasnya. Namun, dengan bekal Pencahayaan yang memadai, trekking dalam gelap bukanlah masalah. Ketika menegok ke belakang, kelap-kelip cahaya lampu kota yang berkedip sepi menjelma menjadi sebuah keindahan yang hening dalam gelap. Begitu indah berjajar, berkedip bergantian, dan kadang tampak bergerak dalam arus arah. Itulah kehidupan tanah rata di Kota Jember dan Bondowoso, indah dalam berbagai warna spectrum cahaya. Kami istirahat sejenak, Pohon Pohon tumbang sepanjang trek tadi sangat merepotkan, memaksa kami menitihya, melompati bahkan kadang merangkak melewatinya. 1,5 jam perjalanan kami tiba di kawasan hutan cemara. Trek turun-naik sebagai pelipur perjalanan kami ke Puncak. Harusnya kami tiba di Pondok Mayit ini. Tapi, sama sekali tak terlihat plang informasi Pondok Mayit. Beberapa tanah lapang agak lebar, sering kami kira sebagai Pondok Mayit, ternyata bukan. Dan Kami terus saja berjalan. Kawasan hutan cemara berubah lagi menjadi padang alang-alang dengan medan miring. 2,5 jam trekking dari Pondok demit kami , akhirnya tiba disebuah camp-ground. Awalnya kami kira itu adalah Pondok Mayit, Ternyata dari Tulisan di Plang, ini adalah Pondok Angin.

Pondok Angin(2900m dpl)

Pondok angin tempatnya sangat terbuka dengan pemandangan lereng hingga hutan raung di sisinya. Kami saling bertanya-tanya, lalu dimanakah posisi Pondok mayit, apa tak sengaja kami lalui begitu saja tadi. Hari masih gelap dan digin, waktu menunjukkan pukul 05.00. Kami sarapan dulu disini, sambil menyaksikan pergantian hari dari gelap ke terang. Angin sangat kencang, kadang suaranya bergemuruh entah bergulung-gulung dari mana. Aku Pandang memutar, Disisi Barat, tampak membujur panjang Pegunungan Hyang Timur atau yang lebih dikenal dengan nama Argopuro, disisi Selatan, hijau dan lebatnya pemandangan Hutan raung tampak meraja lela dalam luas. Itulah, medan-medan yang kami lalui tadi. Di arah timur, ada gunung suket dengan puncaknya yang hanya ditumbuhi reruputan dan sesekali tanaman perdu.  Juga beberapa Gugusan Pegunungan Ijen lainnya, lalu disisi utara, tetap padang alang-alang yang terhampar terjal dan puncak raung yang berdiri megah dalam balutan cadas bebatuan vulkanis. Puncaknya terlihat dari sini. Kami jadi makin bersemangat. Langit sudah biru dalam pagi, kami lanjutkan perjalanan ke Pucak.

Summit Attack

Hamparan lebat alang-alang dan Ranting-ranting makin lama makin sedikit, ranting-ranting tumbuh kering tanpa sepucuk daun-pun menghiasi kayunya. Sekitar 10 menit dari Pondok angin, tibalah kami di batas Vegetasi. Semua pemandangan hijau seolah digulung disini, digantikan oleh diorama batu-batu cadas medan puncak Raung.  Puncak Raung masih angkuh berdiri dalam pandangan kami. Dengan medannya yang terjal dan berbatu. Sekilas medannya mirip medan puncak Mahameru, sama-sama terjal. Namun, bebatuan di Raung adalah tipe bebatuan sedimentasi padat. Jadi tidak longsor ketika ditapaki langkah. Tetapi, hati-hati dengan sisi jurangnya, struktur tanahnya rawan disini.Ada sebuah petilasan” In Memoriam” disini, batu marmernya telah retak-pecah termakan usia, pada Nissannya terikat banyak syal, bandana, serta scraf dari beberapa rekan-rekan pecinta alam lain. Sebagai simbilisasi Do’a untuk saudara kita yang terlebih dahulu berpulang di Sisi-Nya karena sebuah kecelakaan ketika sedang mendaki gunung ini. Petilasan ini milik almarhum Deden Hidayat dari Bandung, meninggal disini pada Tahun 1993. Perjalanan kami lanjutkan; batu-demi batuan medan kami tapaki, di beberapa titik jalan hanya selebar tapak kaki, kurang lebih 30 cm. Berupa puncak tebing tipis menjulang yang harus kami lalui sebelum sampai ke puncak, kanan-kirinya adalah jurang dalam. Kami terpaksa merangkak ketika melewati titik ini, dan jalur makin sempit. Yang namanya adrenaline benar-benar terasa disini. Memompa kencang darah hingga ke pitam. Kami ikuti saja terus
tapak-tapak kaki bekas pendakian yang ada di di bebatuan dan pasir sebagai panduan jejak.Puncak raung sudah dekat, Saya dan faliz sudah duluan sampai di Puncak, mereka memberi semangat pada rekan-rekan, menjelang puncak, medan beganti dengan pasir-pasir vulkanis yang ambles ketika diijak. Dan sampailah kami di Puncak Gunung Raung.


Puncak Raung (3100 m dpl)

Kami tiba di Puncak raung pukul 06.30, Langit masih biru dan indah saat itu, meskipun awan-awan masih belum pada bergumul dibawah kami. Aku nikmati jengkal demi jengkal pemandangan disini. Puncak raung berupa cekungan yang langsung menghadap kekawah, cekungan tidak seberapa luas, kurang lebih selebar 1 meter, kami bisa mengintip kawah disini. Angin Puncak langsung mengembus ketika aku hadapkan diriku pada hamparan luas kaladeranya. Aku coba pandang kebawah, coba mengarahkan pandngan ke dasar kawahnya, Namun aku tak terlalu berani berdiri menepi, tanah sangat rawan longsor. WOW!! Kaldera kawah Raung begitu luas, dengan kedalaman sekitar 500 meter, dan
diameter kawah kurang lebih 1,5 km. Sebuah pemandangan yang menakjubkan, kawah yang tandus dengan sebuah gunung anakan kecil tampak aktif mengepulkan asap ditengahnya. Sementara disekitar kami, tebing-tebing batu cadas saling berlomba menjulang tingi. Diseberang kami, terlihat sebuah puncak bebatuan berdiri menjulang, yang kata orang sering disebut sebagai Puncak Sejati Raung(3332 m dpl). Dari posisi kami sekarang, sangat tidak mungkin untuk menuju kesana. Mustahil untuk menyusuri-keliling bibir kawah hingga sampai kesana, sebab medannya sangat curam dan berbahaya. Biasanya, pendaki-pendaki yang sampai ke Puncak Sejati, bukan lewat jalur Sumber Wringin, Tapi lewat jalur Kalibaru yang drintis oleh PATAGA, atau jalur Glenmore yang dirintis oleh MAPALA UI.Setelah puas berselebrasi dan berfoto. Kami turun kembali. Cuaca cerah sekali pagi itu, pemandangan luas hutan Raung yang lebat terhampar seperti sebuah karpet hijau tua dihadapan kami. Kawah Ijen masih terlihat aktif meniupkan asap belerangnya disisi kanan gugusan pegnungan Ijen. Kami melangkah setapak-demi setapak dengan hati hati, sebab, tak seperti saat naik. Saat turun medan begitu licin dititih, kamipun sempat jatuh bangun beberapa kali, terpeleset.. batas vegetasi telah lewat. Kami turuni padang alang-alang dan sampai kembali di Pondok Angin, Istirahat sebentar lalu lanjut lagi. Saat turun, kami jumpai Pondok angin, Rungsep, mungkin bekas terkena badai, dan banyak pohon tumbang disana, dan Jalur pendakian memang dialihkan untuk tidak lewat kesana dan langsung ke Pondok Angin. Sebab, pondok mayit tak mungkin dipakai untuk berkemah. 2 jam ddari Puncak, kami tiba di Kamp kami, Pondok Demit.  Tak ada masalah dengan barang-barang kami, tetap tak
tersentuh diposisi semula saat kami tinggalkan. Kami masak makanan, menghabiskan perbekalan, lalu jam 11 siang kami lanjut turun supaya tidak terlalu sore sampai ke Pondok Motor nantinya. Kami lalui Pondok Tonyok, setelah pondok sumur, di sekitaran tempat kami bermalam pada hari pertama, aku telefon Pak Bibi, sang Sopir ojek, agar menjemput kami nantinya. Menjelang batas perkebunan, hujan yang sebelumnya hanya gerimis, menjadi lebat. Kami pasang raincoat dan lanjut jalan. Keinginan kami hanya satu saat itu, segera sampai ke Pondok Motor, Balik Ke Pesanggrahan, lalu makan masakan Bu Endang plus Sambelnya. Pukul 15.00 kami sampai di Pondok Motor akhirnya. Lebih cepat 30 menit dari estimasi waktu janjianku dengan Pak Bibi. Hujan begitu lebat saat itu, kami menunggu dalam keadaan hampir basah kuyup di Pondok Motor hingga Ojek datang dan mengantar kami balik ke Pesanggrahan. Hahahahaaaa…..akhirnya sampai juga, kami membersihkan badan dan madi disana, lalu makan.hehehe. Karena masih sore, kami putuskan balik sore itu juga supaya tidak buang-buang waktu dan besoknya bisa full istirahat. Setelah memberekan barang-barang, kami berpamitan dengan bu Endang sekeluarga, dan diantar lagi oleh Pak Bibi dan kawan-kawan ke pertigaan Gardu Atak untuk menunggu Bus balik.

Berangkat:

Bus malam ekonomi Sby- Jember(Tawangalun)   Rp.28.000

Angkot Tawangalun ke Arjasa   Rp.10.000

Bus Mini Arjasa-Gardu Atak    Rp.6000

Angkotan ke Sumber Wringin    Rp.5000

Ojek ke Pondok Motor Rp.30.000/trayek

Balik :

Ojek Sumber Wringin-Gardu Atak    Rp.15.000

Bus gardu Atak- Situbondo    Rp.5000

Bus Situbondo –Surabaya      Rp.28.000

Sekian.

5 comments

  1. boleh minta nonya bu Endang gag?
    kita mau ke raung bulan juli nanti


  2. cukup rinci dan jelas…nice posting bro….btw aku rencana agustus ini ke raung skalian ke ijen, so kalo dr sby enakan naik jurusan jember apa bondowoso? thanks


    • mending ke bondowoso, kecuali kalo malem gak dapat bis ke bodowoso otomatis harus naek jurusan ke jember


  3. kebetulan rute dari bondowoso nyampe sumber wringin sama dengan yg kami lakukan di 1981. Dari Sumberwringin kami bertemu dengan 3 org pendaki dari Jogja. Mereka ponya rute dari Raung ke Ijen via G. Suket.


  4. keren jepretannya mas



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 176 other followers

%d bloggers like this: