h1

GUNUNG RINJANI

March 23, 2011
h1

GUNUNG MERAPI

February 22, 2011
h1

GUNUNG AGUNG

January 30, 2011

14 Mei 2010

Jalur Pura Pasar Agung, Klungkung, Bali
Rencana awal keberangkatan dengan mobil ke Bali pun terpaksa harus segera disubstitusi mengingat hanya saya dan Andy saja yang berangkat. Dan, motor Honda Grand Tahun 97 milik Andy pun dijadikan kendaraan untuk dikendarai ke Bali. Lumayan, biar lebih berkesan adventurenya, touring pun kami geber ke Bali.

Kami berangkat pukul 20.00 dari Surabaya, hujan deras tak hentinya menemani perjalanan kami sepanjang jalur lintas Pasuruan-Probolinggo ditambah banjir juga dibeberapa titik. Namun perjalanan tetap kami lanjutkan malam itu, seakan basahnya pakaian dan sepatu tak kami hiraukan lagi. Perjalanan semalam yang sepi dan mencekam ketika masuk melintasi alas Baluran bukan lagi sebuah ketakutan bagi kami, mengingat Puncak Agung yang telah menancap sebagai angan-angan di otak kami berdua. Pukul 03.30 dini hari kami menyebrang ke Gilimanuk dan tiba di Gilimank kira-kira 1,5 jam berikutnya.

Langit masih saja menampilkan diorama birunya subuh ketika kami menginjakkan kaki di Pulau Dewata, karena lelah kami mencari POM untuk beristirahat memejamkan mata sejenak. Kira kira pukul 07.15 WITA Saya membangunkan Andya, dan perjalanan bersepeda motor akan dilanjutkan kembali menuju Denpasar. Kabupaten demi Kabupaten kami lalui, mulai dari Melaya, Negara, Tabanan, Hingga kira-kira 3 jam kemudian kami telah masuk jalanan kota Denpasar. Kami buka Peta Pulau bali yang saya bawa untuk melihat rute manakah yang akan kami lalui untuk menuju ke Kabupaten Karang Asem.

Rasa lelah terus meliputi perjalanan kami menuju ke Kabupaten Karang Asem, untung saja saat itu cuaca agak mendung, jadi tidak terlalu panas saat kami harus menyusuri jalanan aspal Pulau Dewata. Kami berhenti sejenak di salah satu Alfamart di daerah Sakka untuk melengkapi Logistik bawaan. Lalu kami melanjutkan perjalanan lagi, seketika panas yang dirudung oleh mendung hingga kemudian hujan turun menemani perjalanan kami ke Pura Besakih. Karena dirasa tidak begitu deras, perjalanan kami lanjutkan menyusuri tanjakan menuju ke Kompleks Pura. Hingga kira-kira pukul 13.45 kami tiba di depan gerbang Pura besakih.

Kami tengok kiri-kanan, dimana letak Pos Pendakiannya, tempat kami bisa mencatatkan diri sebelum memulai pendakian. Dan tiba-tiba seorang pemuda berbaju adat, lengkap dengan udheng-nya menghampiri kami, dia menyarankan untuk turun dan mendaftarkan diri dulu di Pos pendakian yang ternyata telah terlewati dijalanan bawah. Tanpa basa-basi, pemuda yang ternyata tergabung dalam Organisasi Guide Pura Besakih itu menjelaskan pada kami ini-itu tentang teknis pendakian Gunung Agung berikut biaya administrasi Jasa Guide-nya per pendakian. Hah!!! Kami langsung terkejut mendengar nominal biaya perijinan dan Guide yang harus kami bayar untuk bisa mendaki. GILAAA……800 ribu untuk sekali pendakiannya. Setelah kami tawar-pun Cuma bisa turun jadi 600 ribu minimal. Si-Guide bilang pada kami, kalau mereka juga harus setor minimal 500ribu untuk setiap pendakiannya, jadi kalau ongkosnya 600 ribu, mereka mendapat fee hanya sebesar 100 ribu saja.

Gilaaa…benar benar gila!! Kami sempat dibuat sakit hati……..jauh-jauh kita bertandang lintas Jawa, eh ternyata seperti ini perlakuan para Guide disini, mereka meng-komoditikan alam dengan begitu komersilnya atas nama organisasi. Ketika kami berniat berkeliling lihat-lihat Pura Pasar agung, mereka-pun masih sempat sempatnya memasang tarif untuk kami. Sebuah nilai yang kami rasa sangat tidak masuk akal. Toh, kami kan juga turis lokal. Mengapa disana begitu komersil sekali. Dengan sangat kecewa, kami mengurungkan melihat Pura Besakih dan langsung memilih turun. Saya langsung teringat kalau Gunung Agung tidak hanya bisa didaki dari Pura Besakih saja, masih ada jalur Pura Pasar Agung.

Di sepanjang perjalanan turun, kami bertanya penduduk sekitar kemana jalan menuju Pura Pasar Agung. Ternyata lumayan jauh jaraknya, sebab pura pasar Agung terletak jauh di Pedalaman Klungkung, Bali. Jalanan aspal menanjak yang kami lalui seakan hanya berputar-putar tak berujung. Sebuah Plang penunjuk arah sempat membuat kami sedikit tersesat, untung saja kami bertemu dengan penduduk sekitar yang kebetulan kami jumpai. Kami bertanya padanya kemana arah Pura Pasar Agung, melihat kami membawa peralatan perang dan memakai motor ber-plat “L”. Si penduduk local yang bernama “Kadek” itu langsung menawarkan jasa memandu perjalanan kami Mendaki Gunung Agung. Negosiasi tawar menawar harga berlangsung, setelah harga cocok, kami bertukar nomor telepon. Mas Kadek menyuruh kami menunggu di Pura terlebih dahulu, dia akan menyusul malamnya, dan pendakian akan dimulai pukul 02.00 dinihari. Kami susuri lagi jalan aspal yang berputar-putar, makin lama jalanan makin sempit dan menanjak, kami masuk daerah hutan yang masih lebat, untung motor Honda Grand ’97 Andy masih mampu menjajaki tanjakan demi tanjakan, hingga di ujung bukit akhirnya kami tiba di halaman Parkir Pura Pasar Agung. Saat itu pukul 16.30, suasana sunyi dan berkabut, hanya dua orang penjaja makanan terlihat di parkiran. Kami memarkir motor dan bersorak. Ini sebuah kebanggaan, akhirnya kami tiba di Pura Pasar Agung. Tidak terlihat apa-apa, suasana begitu sunyi, baru terlihat serombongan orang menuruni anak tangga Pura, mereka ternyata baru saja usai melakukan sembahyang. Diantara mereka ternyata adalah pasangan suami istri Bpk. Ida Bagus Wisma, yang telah mentraktir kami minum kopi(Terima Kasih), heehehe…..

Setelah semua orang turun, dan warung tutup, kami dirikan tenda di halaman parkir dan memarkir motor kami disebelahnya. Layaknya musafir, setidaknya, tenda adalah tempat kami untuk bisa beristirahat. Hujan turun malam itu, lumayan deras. Beberapa orang yang akan bersembahyang sempat membangunkan kami, mereka menyuruh kami untuk naik ke Pura saja, dan tak perlu buka tenda. Namun, karena tidak tahu apa-apa dan tidak ada yang dikenal disana, kami jadi canggung, dan memilih tetap di halaman parkir saja.

Pukul 21.00 Guide kami, Mas Kadek telah tiba. Beliau membangunkan kami, dan mengajak kami bermalam di Pura. Nah, karena sudah ada yang kami kenal kami jadi tidak canggung lagi, kami packing ulang isi tas dan gulung kembali tenda lalu naik ke Pura Pasar Agung. Dari Halaman parkir, ke Pura Pasar Agung ternyata masih harus menaiki anak tangga sejauh sekitar 500 meter. Oleh Mas Kadek, kami diajak bermalam di Dapur Pura. Meskipun sederhana, namun tempat itu begitu hangat, ada kompor dan perapian didalam ruangan. Orang-orang Pura begitu baik, mereka menjamu kami dengan secangkir Kopi Susu. Kami menghabiskan malam itu dengan berbincang-bincang panjang tentang adat istiadat masyarakat Bali dan ke-originalitasannya, juga beberapa cerita dan mitos seputar Pura Pasar Agung. Pukul 23.30 Mas Kadek mempersilahkan saya beristirahat, dan saya-pun akhirnya ikut terlelap juga.

Mas Kadek tiba-tiba membangunkan saya, dan ternyata jam sudah menunjukkan pukul 02.10. Kami packing ulang logistik, sebab kami hanya bawa satu keril keatas. Tanpa perlu membawa tenda, hanya makanan, kompor, snack, dan 3 botol air saja. Setelah berpamitan dengan orang-orang di pura, kami langsung melanjutkan perjalanan. Ternyata trek pendakiannya menyisiri jalanan belakang Pura Pasar Agung hingga menemui jalan setapak masuk batas hutan.

Jalanan langsung berubah menjadi tanah liat yang licin di hutan, belum lagi pipa pipa air penduduk yang melintang sangat menganggu disepanjang trek, mau kami injak tapi takut kalau pecah nantinya sebab sebagian besar pipa masih berupa pipa air PVC biasa. Semakin kedalam hutan, jalanan makin menanjak dan sempit. Hingga kira-kira lepas 20 menit perjalanan, trek tanah liat berubah menjadi hamparan batu-batu kerikil, dan makin menanjak dengan kemiringan kira kira 45-50 derajat. Banyak sekali percabangan-percabangan disini, namun semuanya akan bertemu lagi di satu jalur. Medan yang terjal memaksa kami berulang kali berhenti untuk rehat sejenak. Dan.. ketika kami menoleh ke belakang sebuah suguhan pemandangan yang menakjubkan dari Pulau Bali tertata rapi di depan mata kami. Sebuah pemandangan yang tidak ada di objek-objek wisata pada umumnya…. sebuah pemandangan menakjubkan punya Gunung Agung. Tampak dari atas, batas garis pantai Pulau Bali sisi selatan, juga Pulau Nusa Penida diseberangnya. Ditambah dengan keindahan sorot lampu By Pass Sanur dan bulan yang sedang bulat penuh pada malam itu. Saya dan Stepi hanya bisa berdecak kagum menyaksikan ini semua, kelap kelip lampu-lampu kota Denpasar dan sekitarnya juga tak kalah terangnya dengan bintang-bintang diatasnya. Kapal-kapal yang melintas di perairan tampak tergoyang kekanan-kekiri oleh deru ombak samudera malam itu. Hampir semua hamparan Pulau Bali tergelar dibawah kami, dan kami benar-benar serasa berada diatap Pulau. Kami puaskan menatapi semua deskripsi alam yang benar-benar luas ini. Seakan tak ada habisnya batas mata memandang. Dimanjakan, meskipun dalam gelap sunyi dan dinginnya dihi hari.. semuanya bisa dibilang sempurna.

Kami lanjut jalan lagi hingga tiba di batas vegetasi pada pukul 05.00 WITA. Suasana masih gelap saat itu, belum ada tanda-tanda matahari mengintip sama sekali. Kami Istirahat sejenak disini, angin dingin mulai turun dari puncak. Menggelitik tenguk dan sisi sisi kulit kami. Mas Kadek bercerita panjang lebar disini, mulai dari tingkah pola para tamu yang pernah diantarkannya, sampai soal Desa Trunyan yang melegenda. Sorot lampu senter tampak beriring-iringingan diatas, berjalan memutari batu batu terjal puncaknya. Mereka adalah rombongan turis luar dari Austria yang berangkat duluan.

Saat ingin bikin minuman hangat dan Indomie kami baru sadar kalau ternyata gas yang kami bawa tertinggal dibawah. Sialan, kami Cuma bawa kompor plus nestingnya saja. Ya sudah, kami makan mentah-mentah saja itu mie instant, hehehee…hiburan untuk mengisi perut yang mulai terasa ringan.
15 menit rehat, lalu kami jalan lagi. Makin beranjak pagi, angin yang turun makin kencang saja berhembus. Semua pemandangan hijau dibawah, total digulung habis disini, berganti dengan pemandangan bebatuan cadas yang tandus.

Sekilas, kontur medan puncaknya mirip dengan Gn.Raung (3332 m dpl) di Bondowoso, Jawa Timur yang cadas dan tandus. Tapi Gn.Agung lebih liar, bebatuannya lebih besar-besar, licin dan terjal. Kalau di Raung, batu-batu sedimentasinya sudah menguning dan hampir seperti warna tanah. Sedangkan, di gunung Agung masih Putih dan kadang dijumpai masih memerah. Masih jelas sekali tanda-tanda bekas vulkanisnya masih tergolong baru kalau dibandingkan dengan Raung yang masuk kategori Gunung Api tua.

Dari sini, jalur ke Puncak masih sangat kabur, tidak jelas treknya. Sebab yang dilalui adalah batuan-batuan cadas, bukan trek kerikil dan pasir seperti di Mahameru, Rinjani atau Raung. Jadi, jejak susah sekali membekas di bebatuannya. Sangat rawan sekali, terutama bagi yang belum tahu treknya, saya sarankan lebih baik mengajak guide saja. Mengingat kami jauh-jauh dari Surabaya, Mas Kadek merasa sangat sayang sekali kalau harus dilewatkan jalur pendakian yang biasanya. Maka, dari batas vegetasi, Mas kadek potong jalur ke Kanan, menuruni jalur lahar dan menyebrangi punggungan bukit yang lumayan bikin deg-degan saat melewatinya. Belum lagi ketika kami harus memanjat batu-batuan besar. Sungguh sebuah petualangan yang sebanding dengan jarak yang kami tempuh untuk bisa sampai kesini. Langit mulai terang, namun sayang sekali, sunrise pagi itu malu untuk keluar karena mendung yang menggelayut sedari tadi. Hamparan pulau Bali tergelar dibawah kami, hutan hutan yang masih hijau di sekitaran Klungkung seolah menjadi gulungan permadani hijau dibawah puncak Sang Agung. Garis-garis pantai begitu eksotis beradu dengan debur ombak samudera di selatan. Di sisi timur, siluet puncak Rinjani tampak memukau dalam saputan kabut. Inilah kami, diantara indahnya ciptaan Tuhan yang Maha Besar, tak habis diucap kata, tak bosan dipandang mata. Cuma bisa terdiam, terpukau menikmati keindahan meskipun dalam dingin dan lelah di Atap Pulau Bali.

Pukul tujuh pagi, puncak sudah didepan mata…

Cuma tinggal beberapa susunan batu besar saja yang harus saya lewati, dan saya akan sampai di titik tertinggi di Pulau Bali, 3142 m dpl. Terpaut beberapa meter saja tingginya dari Puncak jalur Pura Besakih. Beberapa Turis yang ada di puncak tampak melambaikan tangan pada kami, beberapa diantara mereka juga sudah ada yang turun. Saya dan Mas kadek sudah didepan, kami berdua sampai duluan di Puncak. Karena lelah, Andy duduk sebentar, sambil memotret pemandangan yang disuguhkan oleh sang Alam. Sepuluh menit lewat dari pukul tujuh, Andy tiba di Puncak Gunung Agung, Akhirnya.

Puncak Gunung Agung (3142 m dpl)

Batu-batuan terjal yang kami tanjaki sejauh 5 jam ini akhirnya berujung di bibir Kaldera Puncak Gunung Agung sisi selatan. Kabut langsung turun menyambut kami ketika kami tiba di Puncak. Mas Kadek terlihat sedang sembahyang didepan sebuah Patung kecil disisi jurang, dan Saya terlihat sedang asyik bermain dengan kamera digitalnya. Puncak gunung Agung berupa cekungan kecil di sisi bibir kaldera, disekitarnya adalah bebatuan cadas yang tinggi menjulang. Dari sini pemandangan masih terlihat begitu luas. Hampir semua pulau Bali sisi selatan terlihat dari sini. Sementara, Pura Pasar Agung yang menjadi Basecamp kami terlihat begitu kecil nun jauh dibawah. Mas Kadek memperingatkan kami agar tidak terlalu dekat dengan bibir kawah, karena struktur tanah disisi kaldera rawan sekali longsor. Kawah Gunung Agung tidak terlalu besar, berdiameter kurang lebih 250 meter dengan kedalaman kira-kira 30 meter. Jauh sekali apabila dibandingkan dengan Kawah Gunung Raung(3332 m dpl). Diseberang Kaldera adalah Puncak Jalur Pura Besakih, tampak sayup dalam saputan kabut pagi. Meskipun cuaca tidak begitu bagus pagi itu, tapi kami cukup puas. Karena memang inilah tujuan kami; Atap Pulau Bali.

Puncak Gunung Agung adalah sebuah celah sempit di bibir kawah, diapit oleh batu-batuan cadas yang tinggi menjulang di sisi-sisinya. Pada saat itu terlihat agak kotor oleh bungkus makanan, kembang dan sisa-sisa sesajen lainnya. Ada juga sebuah patung kecil di Puncak, Mas Kadek menyebutnya “Hyang”. Biasanya para Pedante, Mangkuh dan penduduk sekitar sering mengadakan Sembahyang dan menaruh sesajen/persembahan disini. Tak beberapa lama, terlihat sekelompok orang naik ke puncak dengan pakaian serba putih. Ternyata mereka adalah penduduk sekitar yang hendak melakukan ritual di Puncak. Sebuah kotak persembahan berisi sajen tampak mereka bawa juga. Seketika mereka tiba, suasana di Puncak yang semula cuma ada kami bertiga langsung jadi ramai. Mereka tampak sibuk dan khusuk dalam ibadahnya. Sebuah pemandangan yang unik untuk di dokumentasikan; akhirnya kami dapat kesempatan menyaksikan secara langsung ritual Ibadah masyarakat sekitar di Puncak Gunung Agung. Sungguh sebuah pengalaman yang tak terlupakan.

Setelah puas berfoto, dan menikmati pemandangan di Puncak. Pukul 08.00 WITA kami turun. Kali ini kami baru melewati jalur pendakian yang umum digunakan. Ternyata dari puncak, kami menyisir ke barat menuruni punggungan bukit-bukit batu cadas. Turunnya ternyata juga tak kalah susah dengan naiknya, batuan yang tertutup lumut sangat licin ketika dipijak, membuat saya berkali-kali jungkir balik saat turun. Mas Kadek yang sudah terbiasa, dengan lihai bisa melangkah cepat menuruni batu-demi batu. Makin kebawah, jalanan turun makin curam. Serpih-serpih kerikil makin menambah susah trek turun kami. Ternyata, para turis yang tadi turun duluan ada didepan kami; mereka juga tampak kesulitan menuruni trek. Dan, pukul 10.40 akhirnya kami tiba kembali di Pura Pasar agung.

Tips Pendakian ke Gn. Agung
1. Jangan sungkan dalam menawar Harga disini. Baik itu harga Guide, Cinderamata, dll. Sebab semuanya ditawarka 2x lipat bahkan lebih pada awalnya.
2. Jika ingin mengirit budget; pilih Jalur Pura Pasar Agung saja
3. Kalau bisa, mendakilah dalam jumlah rombongan banyak. Sebab bisa membantu menekan patungan ongkos guide.
4. Jangan bwa keril besar dan tenda. Daypack saja sudah cukup. Sebab pendakian gunung agung adalah pendakian singkat
5. Sebelum berangkat, pastikan terlebih dahulu kalau pilihan hari anda bukanlah hari peribadatan di Pura setempat/ hari Besar umat Hindu.
6. Siapkan trekking pole; karena sangat dibutuhkan.
7. Bawalah uang lebih. Sebab, akan selalu ada saja biaya tak terduga selama pendakian.
8. Jagalah sikap dan ucapan selama pendakian. Sebab, Gunung agung adalah Gunung yang sangat dikeramatkan oleh masyarakat Bali.

Nikmati perjalanan…….karena ini akan jadi moment yang tak terlupakan kawand!!

h1

GUNUNG LAWU

December 31, 2010

Pendakian Pegunungan Argopuro
01 April – 03 April 2010
Jalur Cemoro Sewu (Jawa Timur)

Kami ber-4 orang, Saya, Andi, Faliz dan Nessa berangkat dari Surabaya kamis malam tepat pukul 23:00. dan akhirnya tepat didepan gerbang Cemoro Sewu tepat pukul 09:00 pagi. Kami semua belum pernah mendaki kesini, tidak ada yang tahu jalur ataupun medan, pacuan kita adalah blog-blog yang sudah kita baca dan sedikit kenekatan kita. Setelah packing ulang sarapan dan mendaftarkan, kami mulai pendakian pukul 11:00.

Gerbang Jawa Timur – Desa

Cemoro Sewu (1.800 m dpl)

Desa Cemoro Sewu (1.800 m dpl) kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan merupakan gerbang pendakian dari jalur Jawa Timur. Jalur yang dimulai dari Cemoro Sewu (1.800 m.dpl) ini adalah yang paling sering digunakan untuk pendakian, panjangnya 6.5 km, berupa jalan setapak berbatu yang sudah tertata rapi. Setelah 45 menit berjalan kita sampai pos bayangan I, disini terdapat mata air untuk bisa ulang air minum kita. Disini kita bertemu rombongan dari sidoarjo sebanyak 6 orang yang akan melakukan pendakian juga, setelah becakap-cakap sebentar kita teruskan menuju pos I.

Pos I (2.100 mdpl)

Sesampai Pos I ini kita beristirahat sebentar melepas lelah, di Pos I ini terdapat beberapa toko/warung yg biasanya menjual beberapa makanan ringan atau minuman, tapi pada saat kami kesana kondisi toko/warung ini tutup, mungkin kita mendaki pada saat sepi pendaki. setelah beberapa menit berlalu kita lanjutan kembali perjalanan kita menuju Pos II.
setelah beberapa menit berjalan kita bertemu rombongan dari suatu perusahaan yang turun dari atas sekitar 50 orang yang tercecer di sepanjang perjalanan, disini yang membuat kita terkuras banyak tenaga hanya untuk menyapa, menjabat tangan dan menanyakan “dari mana pak??”. setelah 1 jam berjalan kita berhenti dijalan untuk beristirahat minum kopi, karena menunggu kawan kami Nessa yang ketinggalan jauh dibelakang. Nessa yang membawa carrier paling berat dan sudah lama tidak melakukan aktifitas hiking itu yang membuat dia berjalan lambat.

Pos II (2.300 mdpl)

Setelah istirahat sejenak minum kopi, kita lanjutan perjalanan menuju pos II. Setengah jam kemudian kita sampai di Pos II lalu kita putuskan untuk istirahat makan siang disini. Hanya dengan 2 bungkus mie kita bagi berempat, tidak berapa lama kemudian rombongan dari Sidoarjo menyusul dan meninggalkan kami duluan lalu ada seorang bapak tua berumur sekitar 60 tahunan mendaki seorang diri, dan dilihat bekal yg dibawahnya sangat minim. Dalam hati saya hanya berkata “Wow”, beliau berjalan pelan tapi pasti.

Pos III (2.500 m.dpl)

45 menit kita berjalan sampailah kita di Pos III, disini sudah berkumpul rombongan dari Sidoarjo, rombongan kami dan Bapak tua tersebut. Akhirnya kita semua memutuskan untuk makan besar disini, coba hasil masakan 1 sama yang lain pun terjadi. setelah makan besar dan sedikit perbincangan diantara kami akhirnya kita melanjutkan perjalan menuju Pos IV. Beberapa meter dari Pos III jalan mulai dengan jalan berbentuk anak tangga sampai menuju Pos IV, jalan semakin mudah tetapi semakin capek. sebelum sampai pos IV kita bisa melihat pemandangan kota Magetan dan danau Sarangan dari sini dipadu dengan awan yang begitu indah.

Pos IV (2.800 m.dpl)

Pos IV tak terasa sudah kita lewati, mungkin pos IV sudah hancur hingga kita tidak melihatnya. Dari pos IV kita sudah melewati punggungan dan bisa melihat pemandangan kota disebelah kiri kita. Kita juga berpas-pasan dengan rombongan yg turun, dan dibeitahunya kita kalo Argo Dalem sudah dekat, dan mereka berkata “ayo mas sudah dekat, ote-otenya masih hangat” dengan semangat 45 kami mempercepat langkah kami menuju tujuan apa yang dikatakan orang tersebut.

Sendang derajat

Berharap sampai di tujuan yang dikatakan pendaki tadi kepada kami, hanya 20 menit kita berjalan sampailah kami di Sendang derajat. Sebuah sumber air yang dianggap keramat oleh para peziarah. Di daerah sini biasanya juga digunakan untuk bertapa oleh orang-orang yang percaya bahwa akan mendapat “wangsit”. Disini terdapat gua selebar 2 meter yang dapat kita pakai untuk bermalam. Didepan gua terdapat lubang sekitar satu meter yang kadangkala dapat ditemukan air. Jika tidak mau menginap di Sendang Drajat, kita dapat meneruskan perjalanan menuju Argo Dalem, dengan melewati punggungan bukit sekitar 30 menit, kita akan menemukan pertigaan yang kekiri langsung menuju puncak Argo Dumilah ( 3.265 m dpl).

Disini ada gubuk yang ditinggal’i oleh sepasang pasutri yang menjaga sendang derajat tesebut. dengan permisi kita masuk ke gubuk berharap ada orang tersebut berjualan gorengan yang dikatakan pendaki tadi. ternyata eh ternyata Ibu yang tinggal digubuk itu cuman berjualan kopi, teh dan mie goreng. mungkin yang dimaksud pendaki tadi adalah di Argo Dalem yang ditempuh kira-kira 1 jam lagi.
Akhirnya kita membuka tenda disini dan melakukan summit attack besok paginya

Argo Dumilah ( 3.265 m dpl)

Tepat pukul 05:00 pagi kami summit attack, setelah berjalan 15 menit mengikuti jalan setapak, kita ternyata menuju ke Argo Dalem setelah lihat kanan kiri kok puncaknya dibelakang kita, akhirnya kita kembali dan mencari jalan menuju kesana. Akhirnya kita menemukan jalan setapak yang menujuk puncak, Pas Pukul 05:45 kita tiba dipuncak Gunung Lawu 3.265 m dpl (
Argo Dumilah). Dari sini kita bisa melihat gunung Merbabu, Sindoro dan Sumbing. Setelah minum kopi dan banyak foto-foto akhirnya kita kembali ke tenda di Sendang derajat.

Turun

Setelah packing dan sarapan pagi pukul 08:00 kita bergegas turun dan pulang. perjalanan turun begitu cepat, tepat pukul 11:00 kita suda sampai di Cemoro Sewu. dan kita pulang sampai di Surabaya tepat pukul 20:00 malam

Dan, tak akan pernah terlupakan……..Kesempatan bisa menapaki Keindahan Lawu berikut penggalan kisahnya yang ditorehkan dalam dua hari pendakian kami adalah suatu anugerah bagi kami.
Terima Kasih Tuhan.

h1

GUNUNG RAUNG

November 30, 2010

Pendakian Raung 2010

Jalur Pendakian Utara (Desa Sumber Wringin, Kab. Bondowoso)
25 – 27 Februari 2010

Tim Ekspedisi : Saya, Andy, Ndox dan Faliz

Pendakian ke Gunung Raung sebenarnya sudah sempat kami rencanakan di penghujung Desember 2009 lalu, pada saat liburan Natal. Namun karena ada suatu halangan, serta cuaca yang sangat riskan pada saat itu, maka pendakian di delay untuk waktu yang belum dipastikan (kami semua baru pertama kali kesini).

Kami berangkat Rabu, 24 Februari malam dari Terminal Surabaya, kami berkumpul dirumah saya. Lalu belanja logistic di alfamart terdekat, packing dan berangkat ke Terminal Bungurasih. Waktu menunjukkan pukul 22.39 saat kami tiba didepan Terminal. Melihat kami yang membawa Carrier besar, langsung ada Calo yang menawarkan bus pada kami. Kamipun naik bus malam ekonomi jurusan Tawangalun, Jember.Pukul 02.30 dini hari kami sampai di Terminal Tawangalun, Jember. Banyak  jasa ojek langsung menawarkan diri, tapi kami memilih melanjutkan perjalanan dengan Angkutan kota Warna Kuning ke Terminal Arjasa, Jember. Karena trayek dinihari. Sang Sopir dengan seenaknya menaikkan harga. Tarif yang seharusnya  4000 rupiah digenjot hingga 10.000 rupiah per orangnya. Perjalanan 30 menit, kami sampai di sebuah terminal kecil di sudut kota Jember, tampak dua buah bus, beberapa angkot dan dua kol saja yang sedang beroperasi saat itu, kami mencari Bus Jurusan Bondowoso. Bus sudah siap berangkat, kami pun langsung menggotong carrier masuk ke dalam bus dan berjubel bersama para pedagang pasar yang akan berangkat.  Minibus yang kami tumpangi melaju lengang tanpa saingan di sepinya kota Bondowoso, banyak penumpang dengan  beragam barang cargonya silih berganti turun di sepanjang perjalanan. Pukul 05.20 kami Tiba di tujuan, Pertigaan Gardu Atak. Kami menyebrang jalan dan menuju ke angkot biru yang trayeknya ke Desa Sumber Wringin. Karena baru kami saja Penumpangnya, maka kami harus menunggu sampai setidaknya angkot penuh, pukul 07.00 angkot-pun jalan. Perjalanan melalui jalan-jalan desa Sukosari yang sempit membelah persawahan yang hijau, Jarak ke Sumber Wringin lumayan jauh, untung angkotnya penuh jadi jalannya agak cepat. Kurang lebih 30 menit kami sampai di Sumber Wringin, dan kami sangat berterima kasih karena diturunkan tepat di area Pesangrahan “Basecamp Pendakian Gunung Raung”.
Tiba di Pesanggrahan Gunung Raung. Didepan kami adalah sebuah bangunan Belanda dengan  arsitektur  kuno gaya kolonial. Umur bangunan ini saya rasa cukup tua, namun sangat terawat dalam balutan cat tembok warna putih dan Susana yang begitu asri dengan kebun bunga di pekarangan. Bu Endang sang Pengurus Pesanggrahan langsung menyambut kami dengan hangat, mempersilahkan kami istirahat sejenak, dan tahu kalau kita datang dengan muka-muka kelaparan, beliau-pun memasakkan sarapan pagi untuk kami. Sungguh suasana pesanggrahan yang hangat dan jarang sekali kami temui di Gunung-gunung lainnya Cuma ada di Gunung Raung.

Kami diajak berkeliling menyusuri ruang-ruang bangunan pesanggrahan , menilik kamar-kamar berfasilitas lengkap yang bisa disewa dan, diceritai ini-itu. Bu Endang, juga menyarankankan kami akan logistic dan stock air yang idealnya kami bawa. Untuk memperingan beban, barang-barang serta pakaian yang tidak perlu, kami tinggal di Pesanggrahan. Lauk pauknya sudah matang, plus sambalnya. kami-pun menyantap masakan Bu Endang dengan lahap. Meskipun menunya sederhana, tapi saat itu terasa sangat nikmat sekali.
Setelah makan, kami pun bersiap-siap, Bu Endang mengusulkan kami untuk mengojek saja ke Pondok Motor untuk mengirit energy dan air, sebab di Gunung Raung sama sekali tak ada sumbar mata air nantinya. Ok, kami setuju. Dia-pun menelponkan tukang ojeknya pula. Wah, sungguh baik hati sekali Bu Endang. Sebelum berangkat kami-pun mengisi kas Pesanggrahan sebagai retribusi plus bea menu sarapan paginya dengan nilai yang tidak dipatok, terserah menurut Bu Endang….. “sesuai  keikhlasan kalian saja”, katanya.
Empat Orang sopir Ojek sudah siap mengantar kami, Pukul 09.00 kami berpamitan pada Bu Endang, dan melesat kencang diatas motor menyusuri jalan aspal Sumber Wringin yang berlubang menuju Ke Pondok Motor.

PONDOK MOTOR

Jalanan aspal pun berujung pada hutan pinus, berganti dengan jalanan makkadam dan medan makin berat, akhirnya kami berhenti pada sebuah titik pemberhentian yang sepertinya menjadi tempat pemberhentian dan bongkar muat barang-barang perkebunan. Inilah Pondok Motor, kami telah tiba. Ternyata , sekitar satu jam perjalanan dengan menggunakan ojek. Pondok motor berada di daerah perkebunan, dengan view hutan pinus yang mengelilingi pandangan mata. Setelah bercanda dan mengabiskan rorkok satu batang, dan berfoto bersama, kami-pun melepas perjalanan ke selatan, para tukang ojek pun balik sambil melambaikantangan mengiringi perjalanan kami. Saat itu pukul 10.00, kami susuri jalanan pematang perkebunan dan hutan pinus, jalanan berkelok-kelok, naik-turun dan berlumpur.

*Sempat Tersesat

Hati hati, Banyak sekali percabangan di sepanjang trek perkebunan, sedikit membingungkan kami yang sebelumnya tak ada yang pernah kesini. Tapi, kami ikuti saja jalanan trek paling besar yang menuju ke arah selatan-barat daya. Itu adalah trek pendakiannya. Tak ada petani atau orang yang lewat sepanjang jalan yang bisa kami tanyai. Kami berjalan terus hingga tiba di sebuah percabangan, kami ingat kata salah seorang sopir ojek kami tadi, “ambil trek ke barat daya daya mas….sampai masuk hutan nanti”. Berarti kami harus ambil kiri, sebelumnya kami sempat sangsi, sebab trek percabangan sama jelasnya. Dan dari orientasi medan yang kami lakukan, di trek kiri ini juga ada bekas-bekas pernah dilewati para pendaki, juga bekas-bekas sampah snacknya. Kami ambilah jalan kiri, melewati jalanan naik-turun menyusuri sisi tebing dengan jurang  pendek dan sungai kecil berair keruh didasarnya. Dan sampailah kami pada sebuah pondok di Ujung bukit, kami sadar, firasat jadi tak enak. Kelihatannya kami tersesat, salah arah. Kebetulan, kami lihat ada orang yang sedang bakar-bakar diatas, kami segera hampiri untuk bertanya, ternyata narasumber yang kami tanyai ini tak bisa bebahasa Jawa, begitu juga Bahasa Indonesia. Dia hanya bisa berbicara Madura. Wah, kami jadi bingung, diantara kami tak juga tak ada yang bisa bahasa Madura. Tanpa banyak omong, pria patuh baya itu mengantar  kami balik menyusuri jalanan tadi hingga sampai di persimpangan. Dia menjelaskan dengan menggunakan ranting pohon mana arah treknya. Terima kasih banyak bapak….. kami jadi tertolong.

Kami lanjutkan perjalanan kembali, ternyata yang  kami lewati tadi adalah percabangan kea arah Gunung Suket (2900 m dpl), hampir saja akami tersesat kalau saja tak ada Bapak Petani itu. Karena lelah kami istirahat, Lalu kami berjalan kembali menembus padang alang-alang dan memasuki batas hutan hujan tropis yang lebat. Itu tandanya kami telah menapaki kaki gunung Raung untuk menuju ke Pos berikutnya, Pondok Sumur. Di peta tertulis, estimasi waktunya kurang lebih 3 jam  untuk ke Pondok Sumur, Tapi, lewat 3 jam, kami tak sampai juga ke Pos itu. Kelelahan membuat kami sering beristirahat dan sempat tertidur disalah satu tempat yang kami rasa nyaman di siang harinya. Makin masuk hutan trek makin sempit, terlihat banyak remah-remah kulit kayu bekas aksi  Illegal loging. Hutan di kaki gunung raung masih sangat lebat, alami dan berlumut.

Suasana-pun sangat lembab disini. Cahaya matahari hanya samar-samar yang menembus sampai kebawah. Membuat sepanjang trek menjadi sangat teduh, makin kedalam hutan, trek makin sempit, tapi untung tak banyak percabangan lagi. Sekilas, kondisi hutannya mirip dengan hutan lumut yang ada di sekitaran Danau Taman Hidup, saat kami bertandang ke Gunung Argopuro November lalu.Kami kelelahan, pukul 14.30, kami tiba di sebuah tanah lapang kecil yang ada bekas biffaknya, beberapa bungkus mie instant dan botol air minum
tampak berserakan di, kelihatannya tempat ini bekas dipakai camp. Pondok Sumur tak kunjung sampai, kami memilih bermalam disini saja, mengistirahatkan tubuh. Sebab, kami tak tahu, masih berapa lama lagi bakalan sampai kesana. Selain itu, hujan sudah mulai turun.Saat kami memasak menu makan siang, terdengar suara gerombolan turun dari atas, ternyata mereka adalah rombongan Pecinta Alam dari IKIP jember, total ada 27 orang. Mereka sedang mengadakan Acara Diklat Lanjutan untuk para juniornya. Kami sedkit terhibur dengan kehadiran mereka, dan kami-pun sempatkan bertanya tentang kondisi trek diatas. Mereka pun menyarankan kami untuk bermalam disini saja kalau memang lelah, karena ke Pondok Sumur masih sekitar 2 jam lagi katanya, terus mereka menyarankan, untuk esok harinya nge-camp saja di Pondok Tonyok, tempatnya tertutup, jadi tak seberapa
dingin. Mereka juga meninggalkan persedian air untuk kami disana. Dari Pondok Tonyok ke Puncak, butuh waktu sekitar 4 jam. Ok lah, kami ikuti saran mereka, mereka lalu bergegas turun lagi setelah ngopi-ngopi bareng kami. Dan kami segera masuk tenda, dan beristirahat, terdengar hutan makin bergemelitik lebat diluar.

PONDOK SUMUR(1800 m dpl)

Pukul  07.30, setelah sarapan dan packing. Kami lanjutkan perjalanan Ke Pondok Sumur, trek yang kami lalui mirip seperti terowongan yang terbentuk dari tanaman-tanaman liar yang tumbuh menyilang diatas kepala. Trek awal lumayan datar dan berkelok, ada juga pohon besar tumbang yang harus kami titih diatasnya karena menutupi trek. Beberapa harus kami lompati dan merangkak dibawahnya. Tanjakan makin terjal sudutnya, dengan sisi kirinya berupa Jurang dalam, sampailah kami di Pndok Sumur. Waktu menunjukkan pukul
08.30, Cuma satu jam perjalanan ternyata. Pondok sumur berupa camp-ground dengan jurang dalam disinya, Lokasinya lumayan terbuka dan datar, cukup untuk 4-5 tenda saja, Ada Pal beton ditanah setinggi 30 cm, juga Plang dari Plat bertuliskan nama Pos ini ditancapkan di salah satu pohon tinggi.  Jangan berharap ada sumur atau sumber air disini. Kalau menurut cerita Bu Endang, memang sejatinya ada sumur disini dengan air yang sangat jernih, namun itu semua tak kasat mata. Hanya orang-orang tertentu saja dengan kemampuan yang waskita saja yang bisa melihatnya. Ternyata teman-teman dari IKIP Jember kemarin juga meninggalkan air disini untuk kami, lumayan meskipun tak banyak. Kami istirahat sebentar lalu lanjut.
PONDOK TONYOK(2210 m dpl)

Setelah beristirahat sejenak, kami lanjutkan langkah kami. Tujuan selanjutnya adalah Pondok Tonyok. Kalau menurut peta, jarak dari Pondok sumur dan Pondok Tonyok kurang lebih sekitar 2 jam. Jalanan setapak makin sempit dan sudut elevasi pendakian makin terjal, ditambah lagi dengan adanya beberapa pohon tumbang dan semak belukar yang tumbuh menghalangi trek. Jalan berkelok-kelok dan terus naik. jalanan setapak makin sempit oleh ilalang yang tumbuh subur di musim hujan. Untungnya, sulur-sulur belukar kadang salaing merajut suasana, menghadirkan sebuah terowongan yang teduh bagi kemai yang melangkah. Suasana jadi tidak panas. 2,5 jam harus kami tempuh untuk bisa sampai ke Pondok Tonyok. Pukul 11.30 kami sampai dan beristirahat sejenak. Ternyata, teman-teman dari Mapala IKIP Jember juga meninggalkan air disini,hehehe…Terima Kasih. Sempat ada wacana untuk buka tenda disini saja, lalu nanti tengah malam dilanjut ke Puncak. Tetapi, karena jarak antara Pondok Tonyok dan Pondok Sumur tidak terlalu jauh, hanya setengah jam saja, maka saya dan Andy trekking dulu untuk survey lokasi Pondok Demit, apakah nyaman dan tidak terlalu dingin untuk bermalam, sementara Faliz dan Ndox memasak makan siangnya, Tanpa Carrier, kurang dari 10 menit, kami sampai di Pondok Demit. Setelah orientasi pada medan, ernyata Posisinya lumayan-lah kalau dipakai bermalam. Atas pertimbangan daripada besok kejauhan ke Puncaknya, kami putuskan bermalam di Pondok Demit saja.

Pondok Demit(2367 m dpl)

Lokasinya cukup teduh, tidak luas. Sebuah tanah datar yang mungkin cukup untuk 3-4 tenda saja. Banyak Pohon-pohon besar mengelilingi. Disisi Barat pemandangannya terbuka ke arah jurang dan hutan lebat Raung. Kami bermalam disini saja. Sempat ingin melanjutkan perjalanan, karena mengingat hari yang menunjukkan masih pukul 13.30. Tapi, karena kabut dan gerimis mulai turun. Wah…..urunglah niatan itu. Konon, diberi nama Pondok Demit, sebab  disini ada Pasar Setannya. Waktu yang luang kami habiskan dengan bersenda
gurau, dan saling bercerita tentang ini itu. Akhirnya ngantuk dan tertidur, Saat hari menjelang senja, Ndox yang masih berda diluar tenda membangunkanku. Sunsetnya begitu indah sore itu. Perpaduan antara jingga dan merah saling bergelayut merajut senja di ufuk barat. Membuat suasana begitu temaram dalam lembayung yang remang-remang. Kami semua terdiam, hanya bisa tertegun menelan ludah, tanpa berkata sepatah katapun. Sungguh indah nian saat itu, Terma Kasih Tuhan, Terima Kasih alam. Kami bersimpuh, sambil menghisap batangan rokok kretek, sambil menyaksikan diaroma yang beberapa menit saja ini, lalu tak lupa mengabadikan mommentnya. Ada yang aneh disini, sayup-sayup kami mendengar suara alunan yang mirip suara gamelan. Samar namun masih dapat kami dengar. Suara gamelan-pun diiringi suara orang nembang. Mirip seperti tembang jawa denan nuansa sedikit dangdut. Kadang sumber bunyi berasal dari arah depan, berpindah dari arah samping, dan berpindah dari belakang. Mirip speaker surround. Kami sempat bertanya Tanya, darimana asalnya. Namun setelah sadar, o..oh, kamipun langsung memilih masuk tenda saja dan beristirahat.

Pukul 02.00 Saya membangunkan rekan-rekan, Persiapan untuk ke Puncak. Kami packing ulang barang-barang, dan kami tinggalkan carrier kami di salah satu sudut yang tertutup semak di Pondok Demit. Kami ke puncak dengan satu carrier kecil saja, yaitu carrier Ndox. Pukul 02.30 setelah berdoa, kami trekking ke Puncak, untuk kesana kami harus melalui Pondok Mayit dan Pondok Angin. Jalan memang makin menanjak terjal, banyak pohon-pohon besar tumbang yang kadang mengharuskan kami untuk menitih diatasnya. Namun, dengan bekal Pencahayaan yang memadai, trekking dalam gelap bukanlah masalah. Ketika menegok ke belakang, kelap-kelip cahaya lampu kota yang berkedip sepi menjelma menjadi sebuah keindahan yang hening dalam gelap. Begitu indah berjajar, berkedip bergantian, dan kadang tampak bergerak dalam arus arah. Itulah kehidupan tanah rata di Kota Jember dan Bondowoso, indah dalam berbagai warna spectrum cahaya. Kami istirahat sejenak, Pohon Pohon tumbang sepanjang trek tadi sangat merepotkan, memaksa kami menitihya, melompati bahkan kadang merangkak melewatinya. 1,5 jam perjalanan kami tiba di kawasan hutan cemara. Trek turun-naik sebagai pelipur perjalanan kami ke Puncak. Harusnya kami tiba di Pondok Mayit ini. Tapi, sama sekali tak terlihat plang informasi Pondok Mayit. Beberapa tanah lapang agak lebar, sering kami kira sebagai Pondok Mayit, ternyata bukan. Dan Kami terus saja berjalan. Kawasan hutan cemara berubah lagi menjadi padang alang-alang dengan medan miring. 2,5 jam trekking dari Pondok demit kami , akhirnya tiba disebuah camp-ground. Awalnya kami kira itu adalah Pondok Mayit, Ternyata dari Tulisan di Plang, ini adalah Pondok Angin.

Pondok Angin(2900m dpl)

Pondok angin tempatnya sangat terbuka dengan pemandangan lereng hingga hutan raung di sisinya. Kami saling bertanya-tanya, lalu dimanakah posisi Pondok mayit, apa tak sengaja kami lalui begitu saja tadi. Hari masih gelap dan digin, waktu menunjukkan pukul 05.00. Kami sarapan dulu disini, sambil menyaksikan pergantian hari dari gelap ke terang. Angin sangat kencang, kadang suaranya bergemuruh entah bergulung-gulung dari mana. Aku Pandang memutar, Disisi Barat, tampak membujur panjang Pegunungan Hyang Timur atau yang lebih dikenal dengan nama Argopuro, disisi Selatan, hijau dan lebatnya pemandangan Hutan raung tampak meraja lela dalam luas. Itulah, medan-medan yang kami lalui tadi. Di arah timur, ada gunung suket dengan puncaknya yang hanya ditumbuhi reruputan dan sesekali tanaman perdu.  Juga beberapa Gugusan Pegunungan Ijen lainnya, lalu disisi utara, tetap padang alang-alang yang terhampar terjal dan puncak raung yang berdiri megah dalam balutan cadas bebatuan vulkanis. Puncaknya terlihat dari sini. Kami jadi makin bersemangat. Langit sudah biru dalam pagi, kami lanjutkan perjalanan ke Pucak.

Summit Attack

Hamparan lebat alang-alang dan Ranting-ranting makin lama makin sedikit, ranting-ranting tumbuh kering tanpa sepucuk daun-pun menghiasi kayunya. Sekitar 10 menit dari Pondok angin, tibalah kami di batas Vegetasi. Semua pemandangan hijau seolah digulung disini, digantikan oleh diorama batu-batu cadas medan puncak Raung.  Puncak Raung masih angkuh berdiri dalam pandangan kami. Dengan medannya yang terjal dan berbatu. Sekilas medannya mirip medan puncak Mahameru, sama-sama terjal. Namun, bebatuan di Raung adalah tipe bebatuan sedimentasi padat. Jadi tidak longsor ketika ditapaki langkah. Tetapi, hati-hati dengan sisi jurangnya, struktur tanahnya rawan disini.Ada sebuah petilasan” In Memoriam” disini, batu marmernya telah retak-pecah termakan usia, pada Nissannya terikat banyak syal, bandana, serta scraf dari beberapa rekan-rekan pecinta alam lain. Sebagai simbilisasi Do’a untuk saudara kita yang terlebih dahulu berpulang di Sisi-Nya karena sebuah kecelakaan ketika sedang mendaki gunung ini. Petilasan ini milik almarhum Deden Hidayat dari Bandung, meninggal disini pada Tahun 1993. Perjalanan kami lanjutkan; batu-demi batuan medan kami tapaki, di beberapa titik jalan hanya selebar tapak kaki, kurang lebih 30 cm. Berupa puncak tebing tipis menjulang yang harus kami lalui sebelum sampai ke puncak, kanan-kirinya adalah jurang dalam. Kami terpaksa merangkak ketika melewati titik ini, dan jalur makin sempit. Yang namanya adrenaline benar-benar terasa disini. Memompa kencang darah hingga ke pitam. Kami ikuti saja terus
tapak-tapak kaki bekas pendakian yang ada di di bebatuan dan pasir sebagai panduan jejak.Puncak raung sudah dekat, Saya dan faliz sudah duluan sampai di Puncak, mereka memberi semangat pada rekan-rekan, menjelang puncak, medan beganti dengan pasir-pasir vulkanis yang ambles ketika diijak. Dan sampailah kami di Puncak Gunung Raung.


Puncak Raung (3100 m dpl)

Kami tiba di Puncak raung pukul 06.30, Langit masih biru dan indah saat itu, meskipun awan-awan masih belum pada bergumul dibawah kami. Aku nikmati jengkal demi jengkal pemandangan disini. Puncak raung berupa cekungan yang langsung menghadap kekawah, cekungan tidak seberapa luas, kurang lebih selebar 1 meter, kami bisa mengintip kawah disini. Angin Puncak langsung mengembus ketika aku hadapkan diriku pada hamparan luas kaladeranya. Aku coba pandang kebawah, coba mengarahkan pandngan ke dasar kawahnya, Namun aku tak terlalu berani berdiri menepi, tanah sangat rawan longsor. WOW!! Kaldera kawah Raung begitu luas, dengan kedalaman sekitar 500 meter, dan
diameter kawah kurang lebih 1,5 km. Sebuah pemandangan yang menakjubkan, kawah yang tandus dengan sebuah gunung anakan kecil tampak aktif mengepulkan asap ditengahnya. Sementara disekitar kami, tebing-tebing batu cadas saling berlomba menjulang tingi. Diseberang kami, terlihat sebuah puncak bebatuan berdiri menjulang, yang kata orang sering disebut sebagai Puncak Sejati Raung(3332 m dpl). Dari posisi kami sekarang, sangat tidak mungkin untuk menuju kesana. Mustahil untuk menyusuri-keliling bibir kawah hingga sampai kesana, sebab medannya sangat curam dan berbahaya. Biasanya, pendaki-pendaki yang sampai ke Puncak Sejati, bukan lewat jalur Sumber Wringin, Tapi lewat jalur Kalibaru yang drintis oleh PATAGA, atau jalur Glenmore yang dirintis oleh MAPALA UI.Setelah puas berselebrasi dan berfoto. Kami turun kembali. Cuaca cerah sekali pagi itu, pemandangan luas hutan Raung yang lebat terhampar seperti sebuah karpet hijau tua dihadapan kami. Kawah Ijen masih terlihat aktif meniupkan asap belerangnya disisi kanan gugusan pegnungan Ijen. Kami melangkah setapak-demi setapak dengan hati hati, sebab, tak seperti saat naik. Saat turun medan begitu licin dititih, kamipun sempat jatuh bangun beberapa kali, terpeleset.. batas vegetasi telah lewat. Kami turuni padang alang-alang dan sampai kembali di Pondok Angin, Istirahat sebentar lalu lanjut lagi. Saat turun, kami jumpai Pondok angin, Rungsep, mungkin bekas terkena badai, dan banyak pohon tumbang disana, dan Jalur pendakian memang dialihkan untuk tidak lewat kesana dan langsung ke Pondok Angin. Sebab, pondok mayit tak mungkin dipakai untuk berkemah. 2 jam ddari Puncak, kami tiba di Kamp kami, Pondok Demit.  Tak ada masalah dengan barang-barang kami, tetap tak
tersentuh diposisi semula saat kami tinggalkan. Kami masak makanan, menghabiskan perbekalan, lalu jam 11 siang kami lanjut turun supaya tidak terlalu sore sampai ke Pondok Motor nantinya. Kami lalui Pondok Tonyok, setelah pondok sumur, di sekitaran tempat kami bermalam pada hari pertama, aku telefon Pak Bibi, sang Sopir ojek, agar menjemput kami nantinya. Menjelang batas perkebunan, hujan yang sebelumnya hanya gerimis, menjadi lebat. Kami pasang raincoat dan lanjut jalan. Keinginan kami hanya satu saat itu, segera sampai ke Pondok Motor, Balik Ke Pesanggrahan, lalu makan masakan Bu Endang plus Sambelnya. Pukul 15.00 kami sampai di Pondok Motor akhirnya. Lebih cepat 30 menit dari estimasi waktu janjianku dengan Pak Bibi. Hujan begitu lebat saat itu, kami menunggu dalam keadaan hampir basah kuyup di Pondok Motor hingga Ojek datang dan mengantar kami balik ke Pesanggrahan. Hahahahaaaa…..akhirnya sampai juga, kami membersihkan badan dan madi disana, lalu makan.hehehe. Karena masih sore, kami putuskan balik sore itu juga supaya tidak buang-buang waktu dan besoknya bisa full istirahat. Setelah memberekan barang-barang, kami berpamitan dengan bu Endang sekeluarga, dan diantar lagi oleh Pak Bibi dan kawan-kawan ke pertigaan Gardu Atak untuk menunggu Bus balik.

Berangkat:

Bus malam ekonomi Sby- Jember(Tawangalun)   Rp.28.000

Angkot Tawangalun ke Arjasa   Rp.10.000

Bus Mini Arjasa-Gardu Atak    Rp.6000

Angkotan ke Sumber Wringin    Rp.5000

Ojek ke Pondok Motor Rp.30.000/trayek

Balik :

Ojek Sumber Wringin-Gardu Atak    Rp.15.000

Bus gardu Atak- Situbondo    Rp.5000

Bus Situbondo –Surabaya      Rp.28.000

Sekian.

h1

PORTFOLIO

November 1, 2010

Contoh karya

h1

GUNUNG WELIRANG

October 31, 2010

Jalur Tretes.
(19-20 Desember 2009)

Sebenarnya, pendakian kali ini hanyalah sekedar pelarian karena tidak bisa berkunjung ke Raung, yang rencananya kami akan berangkat pada (24-27
Des’09), tetapi harus di delay karena suatu halangan. Kami berangkat bertiga, angota tim adalah Saya, Andy, dan Givan. Kami naik motor ke Tretes. Berangkat dari Surabaya Pukul 3.30 dan sampai di Pos Perijinan Tretes Jam 05.00

Tretes

Pos Perijinan Tretes berupa sebuah Gardu. Treletak di jalan Raya Tretes (Kalo sudah di Tretes, tinggal tanya orang saja), Dengan arsitektur gaya penjajahan belanda. Kadang di Pos  ada orang, kadang juga tidak. Tapi Tak usaha khawatir, sebab, apabila Pos sedang tutup saat and tiba. Anda bisa mengkontak rumah yang ada di sebelah kiri Pos. Sebab, salah seorang
pengurusnya rumahnya disitu. Biaya Perijinan Rp.5000

Setelah mengurus peijinan, kami langsung tancap naik. Trek yang kami lalui sama seperti saat saya naik ke arjuna beberapa waktu lalu, terus menanjak tanpa ampun dan berbatu.  Pukul 5 pagi kami memulai perjalanan. Perut keroncongan, minta diisi. Kami berharap Warung Emak di Ped Bocor buka.

Ped Bocor

Disebut Ped Bocor, sebab disebelah warung emak ada salah satu Pipa PDAM yang bocor dan biasa dimanfaatkan oleh para pendaki untuk mengambil air. Kami makan dan istirahat di warung Emak, Nasi bungkus yang dingin-pun terasa nikmat jikalau sedang lapar. Jedah waktu 30 menit, kami berjalan kembali, tujuan selanjutnya adalah pos Kokopan . Kami berjalan mengikuti trek makadam yang semrawut dan terus menanjak, ada pohon besar dan menutupi trek memaksa kami untuk sedikit memotong. Sepanjang perjalanan naik ke kokopan akan banyak dijumpai jalan -jalan tembusan diantara trek, yang sebenarnya adalah jalur pendakian lama.

Kokopan
Kurang Lebih 2,5 jam perjalanan, kami tiba ti Pos Kokopan. Berupa Tanah Lapang yang lumayan luas dengan mata air di sisi Kirinya, dan ada Pondokan bekas warung di sisi kanannya. Saat itu pukul 08.00 dari kokopan, pemandangan begitu luas, disisi timur, bisa kita lihat tegaknya Gunung Penanggungan dan view hutan serta perladangan penduduk. Kami berhenti sejenak, melepas lelah. Disini juga ada yang ngecamp, kira-kira 5 rombongan. kami berbincang dengan mereka, dan rata-rata kebanyakan dari mereka tidak  meneruskan perjalanan ke puncak. cuma nge-camp menghabiskan liburan disana. Kebetulan sekali, ada dua orang yang mau lanjut naik ke Pondokan(Pos Berikutnya). Maka kami turut juga, lumayan ada tambahan rombongan. Rencana mereka akan ke Puncak welirang sore ini, lalu langsung turun. Ok, kami seperjalanan, tak apalah ke puncak sore, yang penting ada barengnya. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Pos berikutnya Pondokan.

Jalur yang ditempuh makain menanjak saja, tetap dengan jalan makkadam yang melelahkan. Perjalanan kali ini memasuki hutan cemara, atau yang biasa disebut dengan Alas Lali Jiwo. Suasana begitu sejuk disini, jalan makadam juga sudah mulai rata. tapi, tiba -tiba semua itu berubah saat hujan turun bersama kabut saat kami sedang enak-enak memasak makan siang.

Pondokan

Setelah perjalanan kurang lebih 4 jam, Pukul 13.30 kami akhirnya tiba di Pondokan. Jejak-jejak jalan makkadam baru terasa disini, kelihatannya baru saja dibuat. Yang dulunya saat saya kesini, jalan makadamnya ahanya sampai batas Timbangan belerang saja, kini sudah sampai di Pondokan. Hujan makin lebat di Pondokan. Kami bertemu kembali dengan dua rekan kami tadi, berteduh di salah satu pondok belerang yang kosong. Dan Briefing untuk perjalanan ke Puncak Welirang.

Saat itu, disana ada rombongan lain dari Surabaya selain rombongan kami, kira-kira 5 orang. Mereka baru saja turun dari puncak, dan satu rombongan lagi baru saja berselang 1 jam berangkat menuju puncak. Hujan-pun berhenti, Kami memutuskan berangkat siang itu, tak peduli cuaca mendung, siapa tahu diatas malah terang. Karena medannya terus menanjak hingga puncak, dari pada berat bawa carrier, kami memutuskan menitipkan beberapa carier kami kepada para penambang yang ada di Pondokan. Bermodal kepercayaan sajalah.

(Sekedar catatan, para penambang belerang disini kadang bersikap kurang welcome pada para pendaki yang datang di pondokan. Sebab, kita para pendaki dirasa mengganggu kediaman mereka, bahkan kadang juga mengotori. Ada juga cerita dari teman-teman, bahkan beberapa penambang juga sering mengisengi para pendaki saat berada di Pondokan hingga terlibat pertengkaran dengan para pendaki)

Entahlah, yang penting kita tidak mulai duluan. hehehehe…….

Pukul 14.00 kita berangkat ke Puncak berlima. Trek ke puncak cukup jelas, kita tinggal mengikuti saja jalanan para penambang belerang (ada bekas roda gerobak). Toh, nanti juga sampai puncak. Jalan terus menanjak, kami makin kelelahan. Mengingat, sepanjang hari ini, dari tadi pagi. Kami terus berjalan. Pukul 16.00 kami tiba di alun-alun, bertemu dengan rombongan yang tadi sebelumnya mendahului kami. Ternyata salah seorang dari mereka sedang sakit perut dan mereka beristirahat. Ok, kami lanjutkan perjalanan dan berjanji menunggu di Puncak. Kami berjalan dalam lorong-lorong yang dibuat oleh tanaman perdu disekitar trek, hingga jalan tiba di punggungan bukit. Pemandangan saat sampau disini begitu indah, kami serasa berada di atas awan, melihata dari jauh gumpalan- gumpalan awan sore dan pemandangan kota dibawahnya. Sungguh indah. Pukul 16.30 kami sampai di puncak Welirang, pemandangan sungguh indah. Jalanan setapak ini apabila diteruskan akan menuju ke sumber belerang . Tapi kami segera potong jalur dan menuju ke Puncak teringginya. Foto-foto, melihat sekitar, suatu pengalaman yang mengasyikan, dan tak akan pernah terlupakan. Kami-pun makin akrab dengan dua orang teman baru kami dari
jakarta, Mas Edo, dan Mas Gufron. Haaaahahahaa.

Pukul 17.30 rombongan yang tadi kami temui di alun-alun baru saja tiba di Puncak. Bahkan beberapa dari mereka masih sedang dalam perjalanan. Karena angin yang makin dingin. Kami memutuskan turun duluan, Hari sudah Gelap saat itu, dan makin gelap dalam kelabu dan lelah. Kami terus berjalan.Didekat sumber air di Pindokan ada satu rombongan lagi  yang nge-camp, mereka adalah rombongan yang tadi kami jumpai saat di Kokopan. Pukul 18.30 kami tiba kembali di Pondokan. Mengambil Carrier yang kami titipkan sembari memberi uang rokok pada para penambang yang rela menjaga carier kami. Lalu kami mengambil air, masak, mendirikan tenda, dan langsung tidur karena kelelahan.

Mas Edo dan Mas Gufron yang semula berniat langsung turun ke Kokopan akhirnya memilih nge-camp di Pondokan karena lelah. Tapi ini semua belum berakhir, Saya, Andy dan gipan besok berniat ke Arjuno untuk meraih puncaknya kembali.

Perjalanan Ke Puncak Arjuno.

Pukul 04.00 Saya membangunkan Andy, persiapan untuk ke Arjuno. Kami memasak sarapan dan berangkat pukul 5. Kami lihat, mas Gufron dan Mas Edo masih terlelap. Gipan memilih tidak ikut, karena masih lelah. Akhirnya Saya dan Andy berangkat berdua saja. Jalanan saat itu masih basah oleh embun. Udara begitu segar. Dan kami-pun sangat bersemangat. Pukul 05.30 kami tiba di Lembah Kidang, Yaitu sebuah padang rumput yang sangat indah, disini ada sumber airnya. Jaraknya dari Pondokan sekitar 30 menitan. Kami istirahat sejenak dan mengisi air. Dalam perjalanan kali ini, saya tidak seperti biasanya, agak lambat. Yaaah, karena perut belum diisi sejak siang kearin. Diperengan kami memutuskan istirahat dan memasak sarapan. Saya tampak kelelahan sekali dan tertidur. Maka, Andy menananyakan sekali lagi pada saya…..apakah yakin melanjutkan perjalanan ke Puncak??   Sebab, jarak dari puncaknya masih lumayan. Sekitar 1 jam setengah dari tempat kami kira-kira. Dan saya bilang tidak mampu lagi, akhirnya kita kembali.

Pukul 11.30, kami tiba kembali di Pondokan. Gipan segera memasakkan kami makan siang. Sementara saya langsung istirahat. Pukul 13.00 Kami makan, laLu Packing. Dan Pukul 14.00 bergegas turun sembari berpamitan kepada para penambang yang baru saja turun dari puncak.

Turun

Meskipun cuma bertiga, tapi perjalanan kami begitu mengasyikkan. Ada banyak hikmah yang kami petik dari perjalanan kali ini. Sehingga, kami siap hadapi hari esok dengan  senyuman.

Setelah 4 jam perjalanan turun, kami tiba kembali ke Pos Perijinan Tretes. Istirahat sebentar. Lalu, pukul 19.00 Kami meluncur balik ke Surabaya.

Sekian,