h1

GUNUNG ARGOPURO

September 28, 2010

Pendakian Pegunungan Argopuro
27 November – 01 Desember 2009
Jalur Baderan – Bremi

Kami berempat berangkat dari Surabaya pada Kamis malam, tepat saat Takbiran Idul Adha di-Gaungkan di Masjid-masjid. Pukul 23.00 kami berkumpul di terminal Bungurasih, Surabaya. Anggota Tim pendakian adalah, saya (ste), Andy, Penyet dan Handi. Dalam pendakian kali ini, Penyet adalah satu-satunya orang diantara kami yang pernah ke Argopuro sebelumnya (Tahun 2004). Dan, Pendakian kali ini, juga menjadi pendakian yang pertama bagi teman Andy yang ikut bergabung, yaitu Handi. Yah, semoga saja menyenangkan.

Pukul 23.30 kami berangkat menggunakan Bus Ekonomi jurusan Banyuwangi. Pukul 04.00 kami sampai di Alun-Alun Kota Besuki, dan kami turun disana untuk melanjutkan naik angkot ke  Desa Baderan. Sialnya, karena hari ini adalah hari Idul Adha, angkot tak ada yang mangkal. mengingat hari ini adalah hari besar.

kami berjalan ke kampung. Perjalanan yang lumayan jauh dan menguras tenaga juga mental. Sebab, kami berjalan bersamaan dengan para penduduk yang sedang berduyun-duyun pergi ke Masjid untuk sholat Ied. Tentu saja, kami langsung menjadi perhatian utama mereka. Untung saja ada penduduk sana yang masih mau mengajak ngobrol empat orang kafir ini, mereka menawarkan bantuan angkot, tetapi menunggu selesainya Sholat Ied dulu.

Setelah sekitar 1 jam menunggu dalam bosan, akhirnya angkot datang, tapi, itupun belum bisa mencerahkan suasana hati kami, sebab, kami masih harus menunggu lagi sekitar 2 jam dalam angkot sampai penumpang penuh. 2 jam lebih, kini pukul 9 lewat, kami-pun sedikit berang dan sedikit mendesak sopir angkot untuk segera berangkat. Yah, dengan sedikit negosiasi dan tawar menawar, akhirnya angkot diberangkatkan walaupun sopir dengan berat hati. Dan, samapi di Desa Baderan pukul 10.00

Baderan

Karena Pos Perijinan tutup pada saat itu, mengingat ini adalah hari besar, maka kami langsung naik saja. Perjalanan awal kami melewati jalan-jalan perkebunan yang menanjak dan berbatu. Lumayan panjang dan berat ditengah terik matahari yang meyengat, pemandangan sangat indah disini, karena sepanjang jalanan, kita akan menapaki punggungan bukit dengan landscape yang sangat indah. Sekitar satu jam berjalan, kami tiba di Tandon air penduduk yang ada pancurannya, dan disini kami sempat membasuh diri, main air, dan mengisi botol minum.

Batas perkebunan ternyata lumayan panjang dan terjal. Perjalanan  masih menanjak, malah makin curam, setelah sekitar 4 km berjalan di jalanan berbatu, kami masuk batas hutan, pada saat itu, menunjukkan pukul 14.00 dan kami terus berjalan. Ternyata, trek ke mata air satu masih jauh, dan tenaga kami lumayan dikuras dengan kondisi trek yang lumayan terjal dengan tekstur tanah merah yang agak licin. Kami Tiba di Pos Mata Air 1 pukul 17.30.

Pos Mata Air I

Pos mata ir satu berjarak sekitar 8 km dari baderan, berupa camp ground kecil, mungkin cuma cukup untuk 3-4 tenda, dengan sumber mata air dari resapan bebatuan. Untuk mengambil airnya, kita harus sedikit agak turun kebawah. Dan, malam itu, kami putuskan bermalam disana.

Paginya, pukul 7, setelah sarapan dan packing, kami lanjtkan perjalanan ke Pos Berikutnya, Mata Air 2. Trek masih bertekstur tanah merah yang licin, ditambah lagi, trek yang rusak oleh ulah penduduk Kampung Baderan yang menaikkan motornya terus sampai ke Cikasur, membuat pendakian hari itu makin melelahkan saja. Cukup lama kami berjalan, Pos Mata Air 2 tak kunjung sampai. Pukul 13.00 tiba-tiba kami sudah sampai di Alun-alun Kecil. Berarti, Pos Mata Air 2 tak sengaja sudah terlewati tanpa kami sadari.

Alun-alun kecil adalah sebuah sabana kecil dengan rumput yang hijau, dan ini tandanya kami sudah makin dekat ke Cikasur. Kami makin bersemangat kala itu, perjalanan kami lanjutkan, trek naik turun kami lalui. Kami kehujanan dalam perjalanan ke Cikasur, karena memburu waktu, kami tetap meneruskan perjalanan dengan menggunakan Jas Hujan. Sebelum sampai ke Cikasur, dari Alun-alun kecil, kita akan melewati 3 sabana dengan pemandangan yang memukau. Setelah itu, sampailah pada hamparan padang rumput tanpa atas yang luas, alias Cikasur.

Cikasur

Kami tiba di Cikasur pukul 14.30, kami sangat senang dan terhibur dengan pemandangannya yang mirip padang golf luas, setelah puas main air dan berfoto di Sungainya, kami naik ke Cikasur. Dan Istirahat sejenak sambil masak di Gubuknya.

Cikasur adalah sebuah hamparan sabana hijau yang luas, dengan bukit-bukit kecil saling menggunung, mirip sekali dengan bukit teletubbies, panoramanya sangat indah sekali. Konon, dulunya Cikasur menjadi tempat Pangkalan militer Belanda, dapat dilihat dari bekas adanya lapangan terbang disana. Disamping Gubuk, ada sebuah puing-puing bangunan yang ketika kami sisiri ternyata terdapat sebuah gorong-gorong gelap, macam ruang bawah tanah yang ditutup. Agak sedkit menyeramkan sih, karena menurut cerita yang sempat kami dengar dari penyet, dulunya tempat itu adalah Kamp penyiksaan dan kuburan masal bagi para pekerja rodi peribumi yang tak dibayar upahnya. Hujan turun lagi, lebih deras dari yang tadi, kami sempat ada rencana untuk bermalam saja di Cikasur. Tapi, tak lama hujan-pun reda, dan kami memutuskan meneruskan perjalanan, tepat pukul 16.30 kami berangkat.

menurut penyet perjalanan Cikasur-Cisentor sekitar 3 jam. Trek Cikasur-Cisentor melewati hamparan sabana-sabana kecil dan hutan dengan jalanan yang relatif landai. Tetapi, trek terkadang akan tertutup oleh pohon yang tumbang atau tanah longsor, jadi kita harus sedikit membuka jalan kembali. Kami berjalan menerobos alang-alang, semak belukar dan kadang sampai harus sedikit berjalan merayap melewati celah diantara batang pohon-pohon besar yang tumbang. Pukul 17.30, kami break Magrib 10 menit, Dan, setelah sekitar 3 jam berjalan, kami mulai mendengar suara aliran air, tandanya, Cisentor sudah dekat.Pukul 20.15, kami tiba di Cisentor.

Cisentor

Cisentor adalah Pos tempat bertemunya jalur pendakian dari Baderan maupun Bremi untuk selanjutnya menjadi satu menuju ke Puncak. Cisentor tempatnya lumayan luas, lapangannnya bisa ditempati bayak tenda-tenda pendaki, dan sedikit turun kebawah, terdapat aliran sungai yang airnya sangat segar. Tetapi, karena topografi tempatnya yang berupa lembah dan dikelilingi olehtebing-tebing tinggi dan terdapat aliran sungai, maka saat malam hari, Cisentor lumayan dingin dan lembab.

Kmi bermalam disini, karena di gubuk kosong, dan tak ada pendaki lain, kami meilih bermalam di dalam gubuk, mengingat suhu disini sangat dingin, kira-kira mencapai 3 derajat celcius di tengah malam menjelang subuh. Kami memasak makan malam, mendirikan tenda, membuat api unggun sambil membakar sampah lalu tidur; mempersiapkan fisik untuk perjalanan ke Puncak esok harinya.

Pukul 08.00 kami berdoa bersama, dipimpin oleh penyet. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Puncak yang diperkirakan akan menempuh waktu 3 jam.

Perjalanan Ke Puncak

Ini adalah hari ketiga dalam pedakian kami di Pegunungan Argopuro. Pagi hari saat itu sangat cerah, kami memulai perjalanan dengan hati dan langkah yang bersemangat  ke Puncak. Kami mengikuti arah plang yang ada di Cisentor, menuju ke puncak. Di awal perjalanan, kami disuguhi oleh pemandangan lembah yang rungsep, dan penuh ilalang, setelah sekitar 1 jam perjalanan, kami tiba di sebuah sabana luas, tempat ini biasa disebut Rawa Embik oleh para pendaki. Disini kami menjumpai bekas-bekas jejak Babi Hutan, Luthung, Budheng, Burung merak, dan kotoran Ajing hutan. Sabana ini begitu indah, liar dan memukau. Perjalanan terus menanjak, dan sesekali melandai menyusuri jalan-jalan setapak di lereng-lereng punggungan bukit.

Puncak Rengganis

Pukul 10.30, kami tiba di sebuah alun-alun, tempat percabangan antara trek ke Puncak Argopuro dan Puncak Rengganis. Setelah sedkit rapat dengan teman-teman, akhirnya kami memutuskan untuk menuju ke Puncak Rengganis. Kami kembali menapaki jalanan yang terjalan dan terus naik. Sekitar 2 menit menanjak dari alun-alun, kami sempai di pelataran Puncak Rengganis yang berupa lapangan luas yang bisa juga dipakai sebagai tepat berkemah. Sedikit berjalan kembali, kami tiba di sebuah lapangan dengan bau belerang yang menyengat yang dutengah-tengah terdapat sususan batu-batu gunung dengan dua petilasan tepat ditengah pusaranya. Konon, menurut cerita penduduk, petilasan di puncak ini adalah petilasan Dewi Rengganis dan salah seorang prajuritnya. Penyet sedikit mengingatkan kami untuk tidak merubah apapun atau mengambil apapun di puncak untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan nantinya.Setelah puas foto-foto, kami naik ke puncak teringginya, makan coklat, berfoto bersama dan mengibarkan bendera G-FORST (Generasi Fotografi Stikom) di Puncak Rengganis. Setelah itu, kami turun dan kembali ke Cisentor.Karena, keterbatasan waktu, mengingat sore ini, kami mesti harus melanjutkan perjalanan ke Bremi. Maka, kami putuskan tidak ke puncak argopuro,

Pukul 13.15 kami tiba kembali di Cisentor.
Saya dan Handi tampak kelelahan lalu tertidur. Sementara penyet memilih mandi di sungai dan aku memasak makan siang. Tak bisa dibohongi, kami semua tampak lelah saat itu. Dan, kebetulan sekali cuaca sedang kelabu berselimutkan awan mendung. Jadi, kami putuskan malam ini bermalam lagi di Cisentor. Besok baru kita Patas ke Danau Taman Hidup.

Perjalanan Ke Bremi

Paginya, setelah sarapan. Kami bergegas packing dan meneruskan perjalanan ke Bremi. Trek arah ke Bremi jalurnya melewati belakang pondokan Cisentor. Jalanan landai kami lalui di satu jam awal perjalanan. Masih didominasi oleh sabana-sabana kering. Kami serasa sedang berada di Afrika. Di sekitar sabana, banyak sekali jejak-jejak babi hutan yang sesekali hampir saja menipu kami. Sebab, sangat mirip sekali dengan jejak pendakian. Satu jam kemudian, kami tiba di Cipesing.

Cipesing

Cipesing adalah sebuah kamp kecil yang hampir tertutup oleh ilalang. Sangat jarang dipakai untuk bermalam oleh para pendaki. Di Cipesing terdapat sungai kecil, yang airnya agak kurang enak. Kami mengisi full botol air untuk perjalanan ke Danau Taman Hidup dan istirahat sebentar disini. Hati-hati saat mengambil air di Cipesing. Sebab, disekitar sungainya banyak sekali terdapat Tanaman Rengas. Tumbuhan jenis ini, sekujur daun dan batangnya banyak ditumbuhi duri-duri halus, yang apabila kita menyentuhnya, serasa seperti terkena efek kejutan listrik kecil.

Lembah Patah Hati

Setelah dari Cipesing kami lanjutkan perjalanan mendaki gunung dan lewati lembah. Yah, kami tiba di Lembah Patah Hati. Medannya naik-turun bukit-bukit, sangat melelahkan dan membuat putus asa, oleh sebab itu, tempat ini diberi nama Lembah Patah Hati. Apalagi, alang-alang yang tinggi dan lebat seringkali menutupi jalur pendakian. Jadi, kita mesti sedikit menebasnya dengan gobang. Tak terhitung sudah, banyaknya kita naik-turun bukit. Perjalanan seakan tiada akhir.

Longsornya tanah dan kebakaran hutan serta pepohonan yang tumbang sering membuat trek pendakian terputus. Dan, kami harus mencari trek alternatifnya dengan membuka jalan. Beruntung sekali, jejak-jejak sampah dari para pendaki kadang turut membantu kami menemukan trek kembali.

Tetapi, ada suatu pemandangan yang menarik di lembah patah hati, ada sebuah tebing tinggi dengan batuan cadas, yang ditengarai sebagai bekas air terjun yang telah mati. Kami sempat berdoto disini. Sebab, pemandangannya yang menakjubkan.

Hutan Lumut

Pukul 14.10 kami tiba di Hutan lebat dengan vegetasi yang padat dan lembab. Sinar matahari hampir tak bisa menembus tempat ini. Memaksa kami, menyaksikan sebuah pemandangan hijau gelap. Lumut-lumut menjalar dan hampir menjadi raja di tempat ini, begitu pula dengan tumbuhan pakis. Trek disini cukup jelas, namun beberapa pohon yang tumbang terkadang menutupi jalur ke bremi. Tanah yang kami lewati terasa membasahi kaki kami, sungguh lembab suasana ditempat ini.

Tapi, kami begitu terpukau, sebab ditempat inilah pertama kalinya aku menyaksikan hutan yang begitu menakjubkan, masih alami, tropis dan lebat. Persis ketika saya menyaksikan film Tarzan. Sekitar satu jam perjalanan di hutan, ada sebuah sungai kecil yang membelah trek, air dari sungai ini adalah muntahan dari Danau Taman Hidup. Dapat kami rasakan dari warna airnya yang agak kuning dan rasanya yang payau, mirip air rawa. Berarti, kita sudah dekat dengan Danau.

Danau Taman Hidup

Pukul 15.30 Pemandangan danau dengan sebuah dermaga menjorok ketengah ada didepan pandangan kami. Yah, sebuah danau ditengah-tengah rimbunan hutan lumut. Masih sangat alami, dan jarang tersentuh jejak peradaban manusia. Hanya beberapa sampah bekas makanan tercecer dipinggir-pinggir danau. Inilah, yang disebut Danau Taman Hidup.

Laksana sebuah taman ditengah tengah kealamian alam, tempat hampir semua penghuni hutan meneguk air dengan kabut tipis dan bacground dua bukit diseberang sangat menghibur kami yang kelehan setelah berjalan hampir 7 jam lebih.

Kami berdiri di Dermaga, menghirup dalam-dalam udara segar, dimana hanya bau napas kami sajalah yang mencemarinya. Meresapi dan merasakan sejuknya alam disini. Ini adalah salah satu nikmat Tuhan yang diberikan pada 4 orang pendaki ini. Perjalanan kami selama 4 hari, seakan dibayar berlipat ganda dengan semua keindahan Pegunungan Argopuro. Kami tak merasa rugi sedkitpun.

Keindahan danau ini membuat kami jadi malas meneruskan perjalanan ke Bremi, dan kami memilih menghabiskan malam saja disni. Masih belum puas dengan semua keindahan yang ada di Danau Taman Hidup ini.

Oh iya, kata salah seorang penduduk di Baderan, kalau berada di Taman Hidup, jangan berteriak-teriak. Sebab, konon Kabut tebal akan datang seketika. Dan, satu kali lagi…. jangan sampai berbuat yang aneh aneh dan merusak kelestarian lingkungannya. menurut cerita legenda, Danau ini adalah tempat pemandian Dewi Rengganis dan para Dayangnya. Jadi, areal ini sangatlah sakral. Kita Nikamati sajalah alamnya; itu sudah cukup.

Kami bermalam disni, mengabiskan malam dengan bercerita, curhat, berbagi pelajaran hidup sambil menghabiskan sisa-sisa logistik. Besoknya kami baru turun ke Bremi. Anehnya, malam kami disini tidak dingin sama sekali, malah bahkan hangat. Entah kenapa, padahal apabila dipikir secara logika, tempat ini berupa lebah ditengah hutan, dengan kubangan air ditengahnya. Sudah pasti sangatlah dingin kalau malam. Tapi ini lain, kami merasakan suatu aura mistik. Kami seakan tidak sedang berkemah di alam terbuka, tetapi seakan-akan didalam sebuah bangunan yang hangat. Saking hangatnya, sleepingbag pun saya lepas. Sebab terasa panas malahan ketika memakainya.

Bremi

Pukul 07.00 setelah packing, kami segera tracking down menuju ke Desa Bremi. Meninggalakan semua lukisan pemandangan indah ini. Sungguh tak akan pernah kami lupakan, Semuanya.

Jalan turun ke Bremi sedkit agak curam dan licin, Kami menapaki sisa-sisa hutan lumut dan terus turun kebawah. Awalnya, kami sempat kaget, sebab, banyak sekali percabangan jalur disini. Tapi tenang saja, ternyata semuanya akan berujung sama. Mungkin jalan-jalan pecabangan itu dibuat oleh para pendaki dan penduduk bremi yang akan naik untuk mencari jalan alternatif dari trek yang menanjak terjal dan licin.

2 jam perjalanan turun, kami sampai di perkebunan karet. Itu tandanya, kami telah sampai di batas desa Bremi. Kami terus turun, dan menapakai perkebunan-perkebunan warga. Hingga akhirnya, kami sampai di perkampungan. Lalu kami menuju ke Pos perijinan Bremi, dan ternyata tutup. Tak ada yang jaga. Ya sudah kami teruskan saja jalanan ke Jalan Besar untuk cari makan dan menunggu angkutan turun.


Nasi Rames pada saat itu sungguh enak sekali, dan sangat menghibur perut kami yang berpuasa makan enak selama 5 hari di hutan gunung. Kami makan dengan lahap seperti orang tak pernah berjumpa dengan makanan. hahahahaaa……

Dua jam menunggu, akhirnya datang juga Lyn jurusan ke Pajarakan, kami segera menumpang turun. Dan sang sopirpun saling bertukar cerita dengan kami, sepanjang perjalanan turun, terlihat sketsa kemegahan Gunung Raung di sisi Timur, dengan awan-awan tersaput di puncaknya. Gunung inilah, rencana pendakian kami berikutnya.

Sampai disini kisah  kali ini,
Dan, tak akan pernah terlupakan……..Kesempatan bisa menapaki Keindahan Argopuro berikut penggalan kisahnya yang ditorehkan dalam beberapa hari pendakian kami adalah suatu  anugerah bagi kami.
Karena keliaran dan kealamiannya bagaikan sebuah permata hijau ditengah bisingnya arus urban di Pulau Jawa.

Terima Kasih Tuhan.

Rincian dan Detail Perjalanan.

Desa Baderan – Pos Mata Air satu              6 Jam
Mata Air 1 – Cikasur                                          7 Jam
Cikasur – Cisentor                                              3 Jam
Cisentor – Pincak Rengganis                         3 Jam
Cisentor – Cipesing                                            2 Jam
Cipesing – Taman Hidup                                  5 Jam
Taman Hidup – Bremi                                       2 Jam

Akomodasi

Berangkat :
Bus Ekonomi Surabaya – Besuki                  Rp. 22.500
Lyn Besuki – Baderan                                       Rp. 10.000

Pulang :
Lyn Bremi – Perjarakan                                   Rp. 7000
Bus Probolinggo – Surabaya                          Rp. 19.000

*)harga bisa berubah sewaktu-waktu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: